3 Poin Istimewa HIPMI NTT Saat Bertemu Presiden Jokowi di Istana

by -25 Views
Suara Flores

JAKARTA, SUARAFLORES.NET—Pada Kamis 05 April 2018 berlangsung pertemuan istimewa 33 Ketum BPD se-Indonesia dan jajaran BPP HIPMI dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka. Dalam pertemuan tersebut, Reynold Arthur Ivan Lay selaku Ketua Umum HIPMI NTT mengusulkan tiga poin istimewa kepada Presiden RI, Ir. Joko Widodo.

Pertama, HIPMI meminta agar dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan proyek mercusuar yang diadakan didaerah. Dalam hal ini BUMN wajib untuk melibatkan HIPMI untuk kegiatan-kegiatan tersebut.

Kedua, diwilayah Bali Nusra lagi giat dikembangkan Industri Pariwisata, HIPMI meminta agar dikeluarkan Perpres atau Perpu mengenai penggunaan produk-produk lokal sesuai dengan kekayaan kearifan lokal, hasil produksi pengusaha-pengusaha UMKM lokal. Dalam hal ini UMKM Anggota HIPMI.

Ketiga, HIPMI meminta diberikan konsesi lahan untuk dikembangkan Industri Garam. Untuk menjawab defisit produksi garam nasional.

Baca juga: Bicara Apa Adanya, Viktory-Joss Diapresiasi

Baca juga: Debat, Dua Benni Sodorkan Solusi Keluar dari Kemiskinan

Pertemuan istimewa ini dihadiri jajaran menteri kabinet kerja Jokowi. Dalam jamuan makan siang bersama juga ada diskusi mengenai percepatan dan pemerataan pertumbuhan perekonmian di Indonesia dan daerah-daerah. Dalam diskusi tersebut hanya 5 Ketum BPD yang diberikan kesempatan untuk berbicara.

“Ada tiga point perjuangan kita bersama yang saya perjuangkan. Dan presiden sangat merespon baik. Satu kehormatan bagi saya dipercayakan mewakili Propinsi Bali, NTB dan NTT untuk memberikan gagasan pemikiran mengenai akselerasi dari perkembangan ekonomi di daerah kita,” ujarnya.

Presiden Jokowi dalam kesempatan itu merespon positif usulan Ketua Umum HIPMI NTT. Menurut Jokowi, pemerintah terus mendorong para pelaku usaha, khususnya entrepreneur muda, untuk terus tumbuh dan berkembang. Indonesia masih membutuhkan banyak entrepreneur untuk memajukan perekonomian nasional.

“Negara ini bisa lebih cepat maju harus ada intervensi kaum muda atau pengusaha muda. Para pengusaha yang diberi kesempatan harus serius dan tidak main-main jika ingin maju. Hampir di semua negara maju memang standarnya memiliki entrepreneur di atas 14 persen. Kita sekarang ini angkanya masih 3,01 persen. Mari kita fokus,” ajak Presiden di Istana Merdeka, (05/04). (sfn02).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *