60 Persen Mahasiswa Sebut Ujaran Kebencian Pecah Belah Bangsa

by -1 Views

JAKARTA, –Peneliti Senior Founding Fathers House (FFH), Dian Permata, melakukan survey  mengenai Ancaman Pemilu 2019 yang meliputi Pancasila, Hoax dan Toleransi. Dalam survey yang dilakukan pada mahasiswa  di provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat menyebutkan mayoritas responden percaya bahwa  ujaran kebencian akan memecah belah masyarakat.

“Sebanyak 60 persen mahasiswa merasa ujaran kebencian akan memecah belah bangsa. Bahkan mahasiswa di Banten merasa toleransi kian melemah. Namun demikian, para milenial masih percaya dan meyakini bahwa keutuhan Bangsa Indonesia masih bisa dipertahankan di tengah ancaman isu SARA dan Hoax,”terang Dian Permata dalam Kemendagri Media Forum yang diselenggarakan di Kantor Pusat Kemendagri Jl. Medan Merdeka Utara No. 7, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Sementara itu, Kapuspen Kemendagri, Bahtiar, yang juga menjadi nara sumber dalam acara tersebut menekankan pentingnya kesadaran hidup sesuai nilai-nilai Pancasila. Sebab, Pancasila adalah abstraksi dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat di Indonesia. Pancasila adalah saripati inti dari falsafah, nilai-nilai  yang hidup dalam masyarakat, pengalaman, etika dan budaya bangsa Indonesia.

“Sehingga kita berkomitmen berikrar menjadikan Pancasila sebagai falsafah dan pedoman hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemerintah saat ini telah mengembangkan inovasi dan berbagai metode dalam.memberikan  pemahaman mengenai Pancasila sebagai falsafah, ideologi dan pedoman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” katannya.

Bahtiar menambahkan, nilai toleransi dan kerukunan  juga harus dihidupkan terus di tengah isu SARA, kita harus pastikan agar dinamika demokrasi tidak mengancam “Persatuan Indonesia” (Sila Ketiga Pancasila)

Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa tingkat pendidikan politik dan kemampuan masyarakat  dalam melakukan penalaran, kemampuan memilih dan memilah informasi sangat penting dirawat.  Masyarakatlah yang menjadi sumber pertahanan utama dalam menangkal dan mencegah berkembangnya hoax atau berita bohong.

Menurutnya, kaum millenial Indonesia harus membangun budaya literasi, budaya gemar membaca. Budaya membaca harus digalakkan agar masyarakat terus mengasah dan menambah ilmu pengetahuan. Hal itu perlu dilakukan terus menerus untuk meningkatkan kecerdasan publik dalam menerima dan mengolah berbagai informasi, arif bijaksana dalam merespon dinamika kehidupan masyarakat saat ini. 

“Paling penting adalah kita semua harus memiliki kesadaran sebagai warga bangsa sehingga tidak mudah diombang-ombingkan dan tidak mudah hanyut dalam sensasi berita bohong (hoax). Hoax adalah kejahatan dalam demokrasi,” tandasnya. (*sp/bkr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *