Amon Djobo, Bupati  Pekerja Keras yang Pantang Menyerah

by -15 Views

KALABAHI, SUARAFLORES.NET,– Ambon Djobo adalah satu dari sejumlah bupati di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sangat populer. Bupati Kabupaten Alor ini, terkenal tegas, keras, bergerak cepat dan sangat humanis.  Sejak Amon memimpin Alor pada tahun 2013 lalu, Amon menjadi satu-satunya bupati Alor yang tampil beda dengan gaya khas ala cowboy dalam membangun Kabupaten Alor dengan topografi yang sulit.

Berbekal otaknya yang cerdas, tubuh yang kekar dengan fisiknya yang kuat, serta  suaranya yang lantang menjadikan Amon mudah meloncat dan berjalan kaki dari satu pulau ke pulau yang lain. Slogan besar “Tancap Gas” menjadi bendera tempurnya dalam mempercepat pembangunan Alor demi mencapai kesejahteraan rakyat.

Amon adalah sosok bupati penantang badai. Ia tidak pernah perduli dengan berbagai ejekan atau olokan dari berbagai pihak yang tidak suka kepadanya. Dia juga tidak perduli dengan berbagai isu-isu negatif yang terus dimainkan lawan politiknya yang terus berupaya menggoyangnya agar ia jatuh di tengah masa pemerintahannya. Baginya, itu semua adalah pemicu dan pemacu untuk terus bekerja keras untuk melayani rakyat di Kota Kalabahi maupun di seluruh pulau-pulau. Amon hanya punya satu tujuan mulia yaitu Alor cepat maju berkembang di berbagai bidang, secara khusus infrastruktur, pariwisata, pendidikan, kesehatan dan sektor kemaritiman.

“Saya hanyalah seorang manusia yang tidak sempurna, namun dengan ketidaksempurnaan saya, saya mau buktikan membangun Alor dengan kerja keras dan itu saya harus turun memberikan contoh bahwa membangun Alor, tidak cukup hanya dengan omong-omong saja. Semangat kerja keras harus kita tanamkan di dalam diri setiap manusia Alor. Kalau kita semua kerja keras maka Alor akan maju pesat, dan pasti anak cucu kita akan merasakan apa yang kita kerjakan saat ini,” kata Amon Djobo kepada Suaraflores di kediamannya, beberapa waktu lalu di Rumah Jabatan Bupati Alor.

Bupati Amon, memang dikenal luas oleh warga Alor sebagai seorang bupati pekerja keras yang pantang menyerah. Ketika ada masalah besar di tengah masyarakat terkait dengan pelayanan atau pembangunan, ia langsung terjun ke tengah masyarakat untuk menyelesaikannya.  Ini bukan basa-basi atau sandiwara. Suatu waktu, Suara Flores pernah menyaksikan langsung bagaimana bupati Amon bergerak cepat kerja melayani masyarakat di Pulau Pantar. Jam 4.30 Wib, Amon sudah bangun tidur dan bersiap-siap berangkat ke Pulau Pantar dengan pegawainya. Tepat pukul 06.00 Wib, bupati Amon bergerak ke pelabuhan untuk naik kapal motor patroli menuju Pulau Merica. Ketika turun dari kapal, ia langsung bertemu masyarakat nelayan di perkampungan itu. Ia langsung menjawab kebutuhan air dan jalan di wilayah itu dengen memerintahkan kepala dinas PU untuk memprogramkannya.   Dari desa itu, ia bergerak lagi menuju Pantar Barat Laut yang berhadapan dengan desa tersebut, di sana ia bertemu berbagai warga yang mengeluhkan air dan jalan raya yang sudah rusak parah. Ia pun menjawab kebutuhan warga tersebut, dan saat ini pembangunan jalan lintas Pulau Pantar, dari pantar Timur, Tengah sampai Barat sedang dilakukan. Baginya, jalan raya adalah kebutuhan utama warga, karena ketika jalan raya sudah mulus, maka kebutuhan apapun bisa dipenuhi termasuk pembangunan fasilitas air minum bersih.

Contoh nyata di atas hanyalah secuil fakta tentang Amon Djobo. Soal semangat kerja keras dan disiplin waktu, bupati yang hoby menyanyi ini, tidak ada duanya. Beberapa kali media ini berusaha menemui Amon, seringkali sulit ditemui karena ia lebih banyak berada di desa-desa dari pada di Kantor Bupati Alor. Menurut beberapa ajudannya, Pak  bupati jarang ada di rumah jabatan atau di kantor bupati, ia lebih banyak pergi ke kampung-kampung mengunjungi warga. Pak bupati juga sering tidur di kampung bermalam di rumah warga. Kadang-kadang dua sampai tiga hari baru pulang ,“ kata Edu, salah satu sopir pribadi bupati Amon, dalam diskusi dengan Suara Flores.

Warga Alor lainnya, yang pernah mendampingi bupati Alor, mengungkapkan kisahnya bersama Amon ketika mengunjungi warga. Dia mengaku stress mengikuti gaya kerja Amon Djobo karena gerakannya yang cepat sulit ditiru. “Kalau kita mau kerja dengan Pak Bupati Amon, kita harus disiplin dan siap fisik kuat. Coba bayangkan, jam 5.00  pagi dia sudah bangun tidur dan jam enam pagi dia sudah ada di tengah masyarakat. Padahal tidur malam hari jam 02.00 Wib. Saya kira siapapun pasti sulit mengikuti gaya dia bekerja,” kata Gustav salah satu mantan tim suksesnya.

Amon sendiri ketika ditemui Suara Flores di Vila kesayanganya, pernah menyemprot media ini dengan “secangkir kopi pahit’ lantaran tidak tepat waktu sesuai dengan kesepakatan bertemu. “Saya ini sibuk pak wartawan. Waktu saya adalah kerja, kerja dan kerja. Jarang saya ada di rumah dan tidur santai-santai. Jadi kalau mau bertemu harus disiplin waktu. Kalau mau tulis apa yang saya buat pergilah ke desa-desa dan tanyakan kepada warga apa yang saya buat biar orang tidak bilang saya karang-karang,” tegas Amon saat turun dari mobilnya dari kunjungan di Pulau Pantar memediasi persoalan lahan warga terkait pembangunan Bandara Kabir di Pulau Pantar.

Meski keras dan tegas, namun bupati Amon adalah sosok yang ramah dan santun dan komunikatif dan pandai memainkan kartu politiknya. Buktinya, di tangan Bupati Amon, Alor kini sudah berkembang makin pesat. Mengapa? Karena Amon pandai membangun komunikasi yang ramah dan santun dengan semua pihak, baik dengan Gubernur Provinsi NTT, DPRD NTT sampai ke tingkat kementrian, dirjen dan DPR-RI di Senayan Jakarta. Buah dari kerja kerasnya, anggaran jalan provinsi untuk alor meningkat dan puluhan miliar dana pusat bersarang di Alor. Salah satunya untuk pembangunan infrastruktur pantar dan Bandara Kabir di Pantar.

Data media ini, berdasarkan penjelasan Kepala Bappeda Alor, Ir. Martin Hatikana, bahwa dukungan anggaran infrastruktur DOB Pantar sangat besar. Kurang lebih anggaran sekitar Rp90 miliar dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur jalan raya lintas Pantar, dua buah jembatan dan Bandara Kabir. Menurutnya, saat ini seluruh administrasi dan teknis DOB Pantar telah diproses, tinggal menunggu peraturan pemerintah (ada dua PP yang mengatur) dan dalam proses penyiapan oleh pemerintah pusat.

“Di tengah-tengah masa persiapan terbitnya dua PP itu, Pemerintah Kabupaten Alor dibawah pimpintan Bupati Amon Djobo terus melakukan intervensi dengan melakukan pembangunan infrastruktur. Pada tahun 2016-2017, anggaran yang dipersiapkan sudah sebesar Rp90-an miliar. Ini dari berbagai sumber. Ada dari APBD dan dari DAU dan DAK. Untuk fisik saja sekitar Rp64 miliar. Pak bupati memimpin langsung pembangunan Pantar dengan turun rutin ke Pantar memantau aktivitas pembangunan dan membantu menuntaskan berbagai persoalan pembebasan lahan di sana,” terang Hitikana.

Saat ini, terang Hatikan, pembangunan di Pantar jauh lebih maju dari Kota Kalabahi. Lebar jalan raya 7-8 meter dan panjang jalan yang sudah ditangani dari Mauta ke Tama – Air Mama. Ada lingkar Pantar juga kita sedang disiapkan,kurang lebih 90-an Km, dari Kabir-Baranusa 33Km kini ditingkatkan statusnya menjadi jalan strategis nasional. Pembangunan jalan juga terus dilakukan dari Kabir-Pandai-Tuabang-Bakalang, Abawang Iwang, Mawala-Kaka Mauta. Kemudian mulai dari Kabir-Baranusa-Mantaru. Untuk keliling pulau akan dituntaskan terlebih dahulu.

“Sekarang kita bidik dua jembatan, yang dananya sekitar Rp30-an miliar lebih. Pada tahun 2017 ini ada ada Rp60- Rp30-an miliar, APBN sekitar Rp50-an miliar. Ini untuk jalan lingkar Pantar, jembatan dan jalan kabupaten. Ketika Pantar jadi kabupaten infrastruktur sudah selesai,” terangnya.

Masih banyak kemajuan di bidang lainnya selama masa kepemimpinan Amon  dan wakil bupati Imran Duru. Di bidang pariwisata, keduanya mencetak prestasi besar denan terus mempertahankan Alor sebagai destinasi wisata yang tidak bisa dilewatkan begiti saja. Berbagai event pariwisata terus digelar rutin, dan dampaknya sangat besar bagi peningkatan ekonomi rakyat. Mendukung pariwisata, Amon terus bekerja keras memperlancar akses udara dengan membangun bandara dan perbaikan fasilitas bandara Mali. Saat ini, dalam sehari kurang lebih 3-4 penerbangan dari Kupang-Alor pulang pergi.

Di masa kepemimpinannya, Amon berhasil menjaga keharmonisan hidup umat beragama yang patut diapresiasi. Bagi Amon, pluralisme adalah modal dasar baginya untuk membangun Alor. Perbedaan suku dan agama adalah satu kekuatan besar yang harus dioptimalkan demi kemajuan daerah. Perbedaan-perbedaan baginya tidak perlu ditonjolkan tapi yang harus ditonjolkan adalah semangat persaudaraan, persatuan dan kesatuan dalam sebuah keluarga besar orang Alor, di Alor di luar Alor dan dimana saja orang Alor berada. Niscahya, perjuanganya mendapat dukungan yang besar dari warga Alor, di mana selama masa kekuasaanya bersama Imran-Duru, berbagai konflik yang tajam tidak terlihat dan terdengar di Alor. Hal yang patut dicatat dalam lembaran sejarah kepemimpinan di Alor dimana nama Amon Djobo disematkan menjadi nama sebuah masjid di Kabupaten Alor. Fakta ini belum terjadi di kabupaten lain di NT, dimana umat Islam menamai mesjid mereka Amon Djobo. Kedua masjid dengan nama Amon Djobo itu terletak di Pulau Pantar, tepatnya di Pulau Lapan dan Pulau Luang Barat, Baranusa, Kecamatan Pantar Barat.

Oleh warga di Pantar, pemberian nama tersebut mempunya kisah inspiratif berdasarkan pada sikap kepemimpinan Amon Djobo. Dimana menurut warga, Amon adalah seorang pemimpin yang mempraktekan sikap toleransi dan kerukunan umat beragama yang sangat tinggi di Alor. Penghargaan yang begitu tinggi dari umat Islam membuat bupati Amon merasa bangga. Seperti dikutip dari media online Obor Nusantara, Amon mengatakan, di NTT, di seluruh Indonesia, dan bahkan di  seluruh dunia, masjid yang nama Amon Djobo hanya ada di Alor.

“Setiap Gereja dan Masjid saya sudah masuk dan ikut sembayang di sana. Hampir semua Gereja dan Masjid saya dijadikan sesepuh di sana. Semua karena saya selalu tegaskan makna kerukunan bagi masyarakat Alor dan semua penganut aliran kepercayaan. Sejauh ini, kami hidup berdampingan dengan penuh cinta kasih, tanpa ada gesekan. Atas dasar itu, masyarakat di Baranusa abadikan nama saya sebagai nama masjid,” tegas Amon belum lama ini.

Melihat kemajuan Alor saat ini, menjelang sukses bupati dan wakil bupati Alor 2018, nama bupati Amon kembali bertengger di urutan teratas bursa calon bupati. Partai-partai politik melirik Amon sebagai kandidat calon yang masih berpeluang menang besar. Partai NasDem, Partai Amanat Nasional (PAN) dan PPP, saat ini memberikan dukungan penuh agar Amon kembali memenangkan pilkada dan memimpin Alor lime tahun akan datang.

Ditemui Suara Flores di Kalabahi, beberapa waktu lalu, Amon jujur mengaku bahwa ia sudah memiliki kendaraan tempur, yaitu Nasdem, PAN, PPP yang telah memberikan rekomendasi kepada dirinya bersama Imran Duru  yang saat ini bersamanya memimpin Alor.  “Saya dan Pak Imran sudah kantongi 6 kursi. Itu sudah memenuhi syarat pencalonan. Dengan demikian,  kami sudah siap tempur pada pilkada 2018 nanti,” terangnya semangat. (bkr/sft)