Ancaman Global dan Perang Kebudayaan, Jenderal Moeldoko Serukan Jaga Ideologi Pancasila

by -18 Views

JAKARTA, SUARAFLORES.NET,–Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn), Moeldoko mengajak rakyat Indonesia mencermati ancaman global yang tengah mengancam dunia, termasuk Indonesia. Untuk itu, dia meminta dan menyerukan agar rakyat Indonesia terus menjaga ideologi Pancasila dan terus bersama-sama meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Hal ini disampaikan Jenderal (Purn) Moeldoko dalam orasi kebangsaan saat Dies Natalis Ke-60 Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) di Kampus Universitas Katolik (UNIKA) Adma Jaya, Jakarta,Kamis (30/5/2018).

Dalam pidatonya yang berdurasi kurang lebih 30 menit, di hadapan puluhan tokoh dan ratusan pengurus ISKA, dan para mahasiswa, mantan Panglima TNI ini menggambarkan situasi dan kondisi ancaman global, dimana negara-negara adidaya saat ini menjadi eksklusif, dan kondisi global tengah rapuh.

“Saya ingin  menyampaikan sebuah lingkungan yang sangat strategis terkait lingkungan global saat ini, dimana negara adidaya yang tadinya begitu inklusif saat ini menjadi eksklusif. Situasi global saat ini kondisinya sangat rapuh. Negara bisa goyang hanya karena satu kalimat di twitter. Begitu mudah goyah, semua situasi yang terjadi ini sungguh memiliki korelasi dengan rakyat Indonesia yang ada di hutan dan gunung-gunung. Karena itulah kita sering membuat sebuah kajian mesti mengenali kondisi lingkungan strategis baik regional dan nasional karena memang diperlukan,” katanya.

Baca juga: Orasi Kebangsaan Dies Natalis ISKA ke-60, Moeldoko Minta Hilangkan Pikiran Minoritas dan Mayoritas

Moeldoko mengaku dirinya seringkali mengatakan bahwa jikalau daya beli dunia ini menurun, maka orang Amerika yang suka belanja mobil gonta-ganti pun menurun. Dengan menurunnya pembelian mobil, maka kebutuhan ban mobil pun akan berkurang. Nah, dengan demikian, maka kebutuahan resources karet menjadi berkurang. Kalau itu yang terjadi maka harga karet yang tadinya Rp26.000,- dan masyarakat sangat bergairah luar biasa. Tetapi tiba-tiba harga karet menjadi Rp6.000,- membuat masyarakat Indonesia yang ada di hutan-hutan dan digunung-gunung langsung loyo.

“Artinya, dampak kondisi global ini berpengaruh sampai di hutan dan gunung-gunung. Itulah saudara-saudara kondisi kita. Oleh karena itu, kita ini harus betul-betul sensitif dalam melihat situasi. Kalau lingkungan seperti itu, ancaman dari waktu ke waktu,”kata Moeldoko.

Dalam orasinya, Moeldoko menceritakan pesan dari Presiden Afganistan dan Ibu Negara Pakistan saat Presiden Indonesia, Ir. Joko widodo (Jokowi) saat berkunjung ke Afganistan beberapa waktu lalu. Dimana, Presiden Afganistan berpesan kepada Presiden Jokowi agar Jokowi berhati-hati karena Negara Indonesia adalah Negara yang sangat besar.

“Hati-hati Pak Jokowi, Negara Anda adalah negara yang besar. Negara kami ini negara yang hanya memiliki 7 etnis. Kami telah bertikai 40 tahun dan sampai saat ini belum tahu kapan Negara kami akan mengakhiri pertikaian ini. Lalu istrinya (Ibu Negara Pakistan) pun mengucapkan,kami dulu sebalum pertikain (40 tahun lalu) para wanita bebas membawa mobil berkeliling-keliling kota, tetapi dengan situasi yang kami hadapai saat ini, maka kami dan anak-anak menjadi korban dari pertikain yang belum jelas kapan berakhir,” ungkap Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengutip apa yang disampaikan Presiden Ir. Joko Widodo dalam sebuah kunjungan ke Negara Afganistan.

Negara Indonesia, kata Moeldoko, memiliki 714 suku, bukan persoalan yang mudah. Indonesia memiliki 17.000 pulau, garis pantai 81.000km, jumlah penduduknya 256 juta luar biasa. Jadi tidak ada cara lain, satu-satunya yang harus dijaga bersama adalah bersatu dan terus bersatu. Sepanjang masih mempersoalkan persoalan-persoalan yang tidak esensial, maka bangsa ini tidak akan maju. Untuk itu, dia mengajak semua pihak menyamakan langkah di dalam membawa bangsa Indonesia, agar menuju pada arah yang benar.

Bangsa Indonesia, lanjut Moeldoko, telah memiliki berbagai persoalan masa lalu, dimana, Negara Indonesia setelah merdeka tidak lepas dari berbagai pergumulan dan pertikaian, apakah itu DI/TI, apakah itu RIS dan seterusnya. Demokrasi Indonesia juga telah teruji, dari berbagai perubahan UUD dan pernah menjadi Negara RIS, tetapi gagal, dan kemudian kembali lagi pada UUD 1945 pada 5 Juli 1959.

“Pengalaman-pengalaman yang seperti itu, mestinya memberikan kekuatan bagi kita untuk berpikir jernih, berpikir lebih baik ke depan, sehingga referensi masa lalu jangan lagi terulang di masa depan,” tegasnya.

Perang Kebudayaan, “Ideologi Pancasila Jadi Senjata”

Namun demikian, Moeldoko mengaku perihatin dengan kondisi yang terjadi saat ini, karena ada siswa yang hanya karena mau mendalami agama, tidak mendapatkan guru agama yang pas dan akhirnya berguru pada Google. Karena terjadi lompatan yang tinggi, maka melahirkan sikap-sikap keras.

“Tetapi apa yang terjadi sekarang. Saya takut juga dengan siswa-siswi kita sekarang. (Kalau baca Tempo) tentang siswa yang hanya ingin mendalami agama, dia tidak mendapatkan guru agama yang pas,akhirnya dia berguru melalui Google. Belajar agama melalui sebuah lompatan yang dasar-dasarnya tidak ia ketahui dengan baik, maka yang muncul adalah sikap-sikap keras,” aku Moeldoko.

“Saya membaca bukunya Ali Khomeni berjudul Perang Kebudayaan. Di dalam buku tersebut menulis bahwa salah satu ciri perang kebudayaan adalah menyenangkan korbannya. Coba bayangkan, luar biasa. Sudah menjadi korban tapi dia nikmati. Jadi kita masuk dalam sebuah lingkungan seperti itu, tidak terasa, lama-lama kita menikmati. Tetapi sebenanya kita sedang menjadi korban dari sebuah pertikain itu. Sebuah peperangan masa depan, dimana perang kebudayaan membawa kita menjadi orang yang tidak percaya lagi atas ajarannya. Orang yang tidak memiliki kekuatan lagi atas ideologinya. Orang yang selalu was-was melihat masa depan. Agamanya dilemahkan, Idoeloginya dirontokan, keyakinan (trust) atas negaranya menjadi hilang, masyarkat menjadi lunglai,”paparnya.

Moeldoko menegaskan dengan keras bahwa tidak ada satu pun negara yang besar tanpa memiliki ideologi yang besar. Untuk itu, dia mengingatkan bahwa ideologi Pancasila adalah ideologi yang teruji dan ideologi yang terbuka dan dinamis. Maka diskursus antara isme-isme itu tidak akan pernah bisa dibendung. Tetapi, jikalau berani berdikusi ideologi tanpa diikuti oleh kemapanan jiwa untuk memahami akan idelogi Pancasila, maka akan dengan mudah termakan dan makan ideologi orang lain.

Baca juga: Air Terjun Ngabatata Aset Wisata Nagekeo yang tersembunyi

Diakhir orasi kebangsaannya, Moeldoko meminta kepada para rektor perguruan tinggi agar membawa generasi muda menjadi generasi masa depan. Oleh karena itu, generasi muda memiliki modal sosial dan modal Ideologi yang kuat. Jika mereka tidak memiliki modal sosial dan modal ideologi, maka mereka akan membawa negara Indonesia ke arah yang tidak jelas.

“Saya katakan hati – hati para rektor, karena rektor akan membawa generasi muda jadi pemimpin massa depan. Kalau dia jadi pemimpin masa depan tanpa memiliki modal sosial modal ideologi yang kuat maka ia akan membawa negara ke arah yang tidak jelas,”katanya.

Idelogi Pancasila, tegas Moeldoko, adalah ideologi yang terbuka dan dinamis. Diskursus tentang ideologi tidak akan pernah berakhir. Mempertentangkan antar agama dan nasionalisme, akan mempertentangkan berbagai macam isme di dalamnya, tetapi tidak ada masalah sepanjang semua orang Indonesia telah memiliki kematangan di dalam memahami ideologi sendiri.”Tetapi, selama kita tidak memahami Idelogi kita, mohon maaf, kita akan mudah dipengaruhi. Bahkan, tidak sadar pasti kita secara perlahan termakan idelogi itu (idelogi orang lain),” kata Moeldoko menutup orasinya.(bkr/sfn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *