Beatriks Rika, Petani Peneliti Kawin Silang yang Sukses

by -15 Views

 

MAUMERE,SUARAFLORES.CO – Menindaklanjuti kegiatan Pelatihan Kawin Silang yang diselenggarakan Wahana Tani Mandiri (WTM) dengan fasilitator Mathias Pagang (Petani Peneliti) dari Kabupaten Manggarai Barat November lalu dan pelatihan bersama  Masipag Maret lalu, para kader tani dan staf WTM mencoba melakukan penelitian tersebut. Dari 6 petani peneliti yang melakukan uji coba kawin silang itu ada banyak pengalaman yang dialami petani peneliti. Keenam peneliti itu telah melakukan penelitian, dan yang dinilai sukses adalah Beatriks Rika, Petani Peneliti dari Lekebai, desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, NTT.

Direktur WTM, Carolus Winfridus Keupung,  mengatakan, Wahana Tani Mandiri (WTM) dalam Program Peningkatan Kapasitas Masyarakat Tani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usahan Tani Berbasis Konservasi, bekerja sama dengan Miserior Jerman salah satu aktivitas adalah Penelitian Kawin Silang Padi (Pemulian Padi). Penelitian bagi WTM dan petani dampingannya bukanlah hal yang baru. Pertama karena dari sejarahnya, advokasi pertanian organik ini didasarkan sebuah landasan penelitian kaji banding yang dilakukan WTM dan Petani dampingannya.

Mantan Direktur WALHI NTT ini, mengatakan,  kemudian secara kelembagaan mengambil sikap untuk mengadvokasi pertanian organik yang dikenal sistem pertanian terpadu. Kedua, WTM juga secara kelembagaan melakuan kajian pertanian untuk mengetahui secara pasti tentang sebuah tanaman. Dari pengalaman ini, saya menyimpulkan bahwa penelitian itu bukanlah hal baru.

Hanya saja, lanjut dia, bertepatan dengan penelitian kawin silang yang sedang dilakukan petani pada saat ini memang selain faktor individu juga faktor alam yang mana ketidakpastian musim penghujan dan curah hujan yang sangat rendah.

Sedangkan Herry Naif, Koordinator Advokasi, Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Hasil – WTM,  mengatakan, penelitian kawin silang demi pemulian benih sepintas dinilai gampang. Benar. Tetapi ada banyak faktor yang bisa mendukung dan mengambat penelitian mulai dari petani peneliti sendiri maupun faktor-faktor eksternal.

Dari kelima peneliti yang terus dipantau WTM dan dirinya, menilai bahwa kemauan petani peneliti untuk melakukan penelitian itu ada. Mulai dari persiapan benih, penanaman dan perawatan hingga pada perkawinan. Secara faktual ditemukan bahwa dari kelima peneliti, Beatriks Rika (Lekebai), Sipri (Bu Selatan) Herzon dan Agus Tiga (Renggarasi) dan Kanis Garu (Done).

Kelima, melakukan penelitian sesuai dengan tahapan yang diperoleh dari pelatihan yang dilakukan. Namun, dari semua petani peneliti Beatriks Rika yang adalah petani perempuan peneliti satu-satunya yang sukses pula sampai pada mendapatkan benih hasil kawin silang padi Chiherang dan Kupa, ujar Herry.

Tampang Bulir padi hasil kawin silang

Berbasis pada pengalaman yang diterima pada saat pelatihan tersebut, Beatriks Rika mencoba mengawinkan pare Kupa dan Chiherang. Menurutnya, ini sebagai uji coba pribadi yang dibuat agar bila sukses akan menularkannya kepada kelompok tani dampingan WTM yang dikoordinasinya. Ternyata dari perkawinan itu telah menghasilkan 8 bulir padi hasil perkawinan yang siap ditanam atau disemaikan agar kemudian mendapatkan (F1).

“Dari padi (F1) ini akan saya tanam dan kemudian akan saya ikuti terus agar melihat apa sifat dan ciri padi ini seperti yang diinginkannya atau tidak. Saya punya catatan yang lengkap soal perkembangan penelitian kawin silang ini. Akan saya serahkan kepada WTM untuk dibuat buku saku atau apalah, kata Beatriks.

Beatriks secara garis besar menjelaskan bahwa diidentifkasi beberapa pohon padi yang siap kawin dipindahkan dari persawahan ke polibag agar memudahkan pemantauan. Ada beberapa polibag yang ditanam padi itu kemudian digunting malai jantannya, dan dibungkus. Setelah sehari, dilakukan pengchekan apakan hasil peguntingan tersebut berhasil. dari beberapa tangkai yang digunting itu semuanya siap kawin.

Dari hasil pemantauan tersebut semua malai yang digunting itu siap kawin maka dikawinkan dengan sel jantan yang sudah disiapkan. Uji coba ini ternyata sukses, ada 8 bulir padi yang diperoleh dari satu tangkai.

Setelah ini, delapan bulir padi ini akan dijemur dan disemaikan lagi agar dikembangkan untuk bisa mengetahui pohon yang mana memiliki sifat dan ciri sesuai dengan yang diinginkan peneliti, ujar perempuan yang terlibat dalam banyak kegiatan di desa baik yang dilakukan institusi agama maupun yang dilakukan LSM. (bkr/hry/sf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *