Belanja Seks, Cina Nomor 1 dan Indonesia Nomor 12

by -15 Views

Riset lembaga peneliti aktivitas pasar gelap, Havocsope, menghimpun data negara-negara paling banyak belanja prostitusi, dengan menggunakan data dari program kesehatan masyarakat, penegak hukum & media.

Dari riset tersebut, tulis situs DW.Com, negara cina  meraih posisi papan atas dengan  73 miliar Dollar AS. Perdagangan seks terbesar di dunia malah ada di negeri tirai bambu, dimana prostitusi adalah ilegal. Bahkan pemerintah memperlakukan pekerja seks seperti penjahat. Namun meski penggerebekan sering dilakukan, tetap saja prostitusi merajalela di panti pijat, bar, karaoke dan klub malam. Di beberapa wilayah, bisnis erotis, seperti ‘pijat happy ending’ tidak dianggap sebagai prostitusi.

Sedangkan dua negara yang berada di posisi kedua dan ketiga adalah  Spanyol: 26,5 miliar Dollar AS, dan Jepang : 24 miliar Dollar AS.  Di Spanyol, prostitusi sangat populer. Riset PBB melaporkan, 39 persen dari pria Spanyol setidaknya pernah satu kali menggunakan jasa pelacur. Angka survei Kementerian Kesehatan Spanyol tahun 2009 lebih rendah: 32 persen dari pria Spanyol pernah ‘jajan’ di pelacuran. Namun tetap saja, angka ini 14% lebih tinggi dibanding di Belanda yang liberal, atau di Inggris.

Dan di Jepang pelacuran di Jepang telah ada sejak sepanjang sejarah negara itu. UU Anti-Prostitusi 1956 yang menyatakan”Tidak ada orang boleh melakukan prostitusi atau menjadi pelanggan prostitusi,” dijadikan celah yang memungkinkan industri seks tumbuh subur, karena di Jepang, “industri seks” tidak identik dengan prostitusi.

Selanjutnya,urutan 4 Jerman dengan total  18 miliar Dollar AS. Diperkirakan terdapat sekitar 400ribu pekerja seks di Jerman. Untuk memperbaiki kondisi sosial dan hak-haknya, diberlakukan undang-undang. Pekerja seks bisa mendapat jaminan sosial seperti profesi lainnya. Dalam amandemen undang-undang, bukan hanya pelaku yang memperjualbelikan manusia & memaksa orang melacur dikenai hukuman melainkan juga mereka yang memanfaatkan keadaan sulit para koban

Amerika Serikat denan total 14,6 miliar Dollar AS berada di urutan ke-5. Di Amerika, prostitusi secara umum ilegal. Namun di beberapa kawasan di Nevada, dilegalkan. Orang bahkan bisa melamar kerja di sektor prostitusi secara resmi. Karena legal, maka pemilik usaha sektor ini dikenai macam-macam aturan dari pemerintah, termasuk pajak, perlindungan tenaga kerja, standar upah minimum, asuransi, pemeriksaan kesehatan untuk mencegah penularan penyakit berbahaya.

Dan diikuti Korea Selatan sebesar 12 milyar Dollar AS.  Meskipun prostitusi di Korea Selatan ilegal, menurut catatan Korea Women’s Development Institute, belanja layanan seks di Korsel bisa mencapai 12-13 miliar Dollar AS setahun, ataau sekitar 1,6 % dari produk domestik bruto nasional. Riset Korean Institute of Criminology memaparkan: 20 persen orang dewasa laki-laki berusia antara 20-64 mengeluarkan uang 580 Dollar AS per bulan untuk prostitusi.

Selain itu, ada 6 negara lagi yang juga mempunya belanja seks yang cukup besar, yaitu India dengan total 8,4 milyar Dollar AS di posisi ke-7, Thailand: 6,4 miliar dollar AS di posisi ke-8, . Filipina: 6 miliar Dollar AS di posisi ke-9, Turki: 4 miliar Dollar AS di posisi ke-10, Swiss: 3,5 miliar Dollar AS di posisi 11, dan Indonesia berada di posisi 12 dengan total belanja seks : 2,25 miliar Dollar AS/Tahun.

Di Indonesia, praktik pelacuran dilakukan secara gelap. Dianggap sebagai kejahatan moral, aktivitas prostitusi di Indonesia tersebar luas dan diatur. UNICEF memperkirakan 30 persen pelacur perempuan di Indonesia berusia di bawah 18 tahun. Tak hanya itu, banyak mucikasi yang masih berusia remaja. Akhir-akhir ini marak pemberitaan tentang artis-artis yang terjun di sektor prostitusi. (Sumber ulasan: DW.Com.Id/sf).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *