Calon Master Theologia Ini Memilih Jadi Kepala Desa

by -17 Views
Suara Flores

MAUMERE, SUARAFLORES.NET –Memimpin desa dengan menjadi kepala desa merupakan sebuah panggilan mulia membangun daerah. Karena itu, tidak hanya tamatan SMP atau sederajat seperti pada jaman dahulu kala. Seorang pria calon Master Theologia (MTh) STFK Ledalero di Kabupaten Sikka memilih menjadi kepala desa. Bahkan sudah 3 periode dipercayakan masyarakat untuk membangun desa. 

Pria yang saat ini menyandang gelar Sarjana Filsafat (S.Fil) juga telah meraih gelar Sarjana Hukum (SH) di Kampus III Muhamadya Maumere. Pada Pilkades Januari 2016 dia menjadi salah satu calon dan menang mengalahkan 2 lawannya. Dia menjadi kepala desa untuk periode ke-3 dan akan dilantik pada 30 Maret 2016 bersama 29 kepala desa lainnya. Dia adalah Levidon Lelang, lulusan Filsafat pada Biara Tarekat Kristus Tak Bernoda Manado pada tahun 1993. Setelah lulus, ia ke kampung di Desa Paubekor dan melanjutkan pendidikan Strata Satu hukum di Maumere ada tahun 2010. Dia memilih tinggal di desa untuk membangun daerah. Ia terpilih menjadi kades periode pertama pada tahun 2003. Selama memimpin 2003-2018, rupanya dinilai baik oleh masyarakat sehingga kembali terpilih pada 2008 untuk periode ke-2 2008-2014.

Pada tahun 2015 dia hendak berhenti untuk kosentrasi pada pelayanan masyarakat buruh kapal dengan menjadi Ketua Tenaga Bongkar Muat (TKBM) akan tetapi masyarakat menginginkan ia menjadi kepala desa 5 tahun ke depan. Dia terpilih dengan mengalahkan 2 rekannya. Levidon memimpin Desa Paubekor untuk period eke-3.

“Bagi saya semua jabatan sama dan mulia, tergantung bagaimana kita memanage dan mencintai pekerjaan. Kita hadir dengan latar belakang pendidikan tertentu tidak harus menjadi PNS. Menjadi kepala desa berarti membantu bupati dan wakil bupati membangun daerah” kata salah satu pengurus Partai Golkar ini.

“Tekad saya membangun Paubekor melalui tiga pilar utama yaitu pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Tiga pilar ini menjadi program unggulan dalam membangun desa Paubekor” katanya di Paubekor, belum lama ini.

Paubekor, sebuah wilayah pemekaran dari Desa Nele Barat Kecamatan Nele pada tahun 2000. Desa ini memiliki 177 kk, 678 jiwa. Penduduk Paubekor rata-rata petani kebun. Penghasilan pertanian dan perkebunan menjadi membiayai hidup masyarakat. Hasil perkebunan seperti mente, kakao, kacang dan kelapa belum begitu banyak seiring dengan jumlah tanaman. Walau begitu jumlah penerima raskin hanya 25 kk. Angka ini terhitung sangat sedikit jika dibandingkan desa lainnya.

Paubekor termasuk daerah yang memiliki potensi wisata namun belum disentuh atau dikelolah secara baik. Tempat wisata “Pepi Rebu” memiliki keindahan yang maha dasyat. Pemerintah desa sedang “melirik” ini menjadi objek wisata desa yang harus dilindungi. (M-16/SF).