Langgar Perda, 14 Pedagang di Sikka Jalani Sidang Tipiring

by -12 Views
Suara Flores

MAUMERE, SUARAFLORES.NET – Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sikka menggelar sidang Tindakan Pidana Ringan (Tipiring) dan menghadirkan 14 orang terdakwa, Jumat (11/5/2018). Empat belas terdakwa merupakan pedagang ikan dan pedagang sayur yang setiap hari berjualan di TPI, di atas trotoar pusat kota, eks pasar Geliting dan di sepanjang jalan negara Maumere-Larantuka.

Sidang Tipiring tersebut berlangsung di pinggir jalan negara atau sebelah barat rumah makan Jakarta Kelurahan Waioti, menghadirkan Hakim Tunggal Dodi Efrison, SH, Jaksa M Zainudin, SH, Panitera Lukas Leton, SH, Penyidik PPNS Yosef Benyamin dan Ferdi H Seraf didampingi Korwas PPNS Polres Sikka, Brigpol Roni Rama.

Yoseph Benyamin kepada wartawan menjelaskan bahwa sidang Tipiring dilaksanakan terkait pelanggaran Perda Nomor 10 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Tugas Pol PP adalah melaksanakan sidang Tipiring sebagai bagian dari penegakan Perda tersebut.

Semua orang yang melakukan pelanggaran dengan berjualan di tempat umum, di atas trotoar tanpa ijin, dirazia dan diproses BAP, dilakukan pemeriksaan cepat dan disidangkan.

“Kita laksanakan razia mulai dari TPI, pusat kota sampai di eks Pasar Geliting. Empat belas orang terjaring, sudah menjalani sidang dan terbukti sesuai putusan hakim karena melanggar Perda Nomor 10 tahun 2007,” ujar Yoseph Benyamin selaku Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja, usai melaksanakan sidang Tipiring di depan Kantor Kelurahan Waioti Kota Maumere.

Baca juga: Farry Francis Sebut Jokowi Pencitraan, Gubernur NTT: Oposisi tidak pantas dipilih rakyat !

Putusan hakim bervariasi sesuai tingkat pelanggaran. Ada yang dikenakan denda Rp200.000,- atau menjalani masa kurungan selama 14 hari. Ada yang didenda Rp150.000,- atau menjalani masa kurungan tujuh hari. Ada juga mendapat denda hingga Rp250.000,- karena sudah berulang ditegur tapi tetap melanggar.

“Kalau denda mereka tidak bayar, maka jaksa siap eksekusi dan mereka harus menjalani masa kurungan,” tegas Mantan Kabag Pemerintahan Setda Sikka itu.

Benyamin mengatakan bahwa Pol PP melakukan komunikasi persuasif selama empat bulan lebih, namun para pedagang tetap saja melakukan pelanggaran. Oleh karena itu, proses hukum berlanjut hingga ditingkat persidangan.

Sejumlah pedagang yang menjalani sidang Tipiring nampak marah dan kecewa. Selain tidak memiliki uang untuk bayar denda, mereka mengaku rugi karena barang-barang yang hendak dijual disita Pol PP.

“Kami mau ambil uang dari mana, tadi kan kami sudah belanja ikan, sayur dan bawang untuk jual lagi. Barang-barang belum terjual, kami ditangkap dan semuanya disita,” ujar Maria Nona Suani, warga Napun Langir Kecamatan Alok yang didampingi sejumlah rekannya.

Baca juga: Debat Cagub NTT Kedua Dinilai Lebih Buruk dari Debat Pertama

Suhartini, salah satu pedagang ikan Desa Watumiok Kecamatan Kangae beralasan bahwa pihaknya berjualan dipinggir jalan, karena di Pasar Wairkoja sangat sepi.

Kepada SuaraFlores.Net, Suhartini mengaku tidak lagi berjualan di pinggir jalan dan kembali ke pasar desa yang dibangun oleh pemerintah desa.

“Sebenarnya saya belum berjualan di pinggir jalan, tapi ditangkap dan minta saya ikut sidang. Saya sudah ikut sidang dan harus bayar denda Rp150.000,-. Saya sedang berjuang untuk bayar denda. Ke depan, saya siap ikut aturan dengan berjualan di lokasi tambatan perahu yang disiapkan pemerintah desa,” akunya (11/5). (sfn02).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *