‘Masyarakat Ekonomi NTT,’ Terobosan ‘Quantum Leap’ Viktor-Josep Bangun Ekonomi NTT

by -15 Views

SUARAFLORES.NET,–Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat,SH dan Drs. Josep Alexander Nae Soi,MM, bersama Dirut Bank NTT, Ishac Eduard Rihi meluncurkan sebuah gerakan baru yang diberi nama “Masyarakat Ekonomi NTT” yang bisa disingkat ME-NTT. Gerakan ini memang baru bagi telinga rakyat NTT, tetapi sebenarnya merupakan tindak lanjut dari gerakan ekonomi besar kawasan Asia Tenggara yang telah lama dikumandangkan para pemimpin negara-negara Asia Tenggara yang bernama Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) yang dimulai tahun 2015 silam.

Gerakan politik ekonomi politik terintegrasi dalam kawasan Asia Tenggara ini bertujuan memperkuat kerja sama politik, keamanan, dan kemandirian ekonomi negara-negara terkait menuju kesejahteraan bersama. Setelah melihat masalah dan mengidentifikasi (mendiagnosa) potensi kekayaan alam NTT yang layak diolah dan dijual, Viktor-Josep, kedua pemimpin super pengalaman dengan jaringan nasional dan internasional ini ingin membawa NTT Go Imternasional, keluar dari cangkang telur kemiskinan yang sudah akut dan sekarat dengan lintah darat korupsi.

Setelah mencanangkan gerakan Masyarakat Ekonomi NTT tersebut, Viktor-Josep yang didukung dengan praktisi ekonom muda NTT, Eduard Rihi, dan ahli hukum Dr. Markus Hage, tidak tinggal diam. Viktor-Josep langsung beraksi di jalur darat, laut dan udara untuk menjaring dan menangkap peluang kerja sama, baik dengan negara-negara asing maupun dengan jaringan kerja sama di dalam negeri. Jurus pertama yang mereka lakukan adalah membangun hubungan kerja sama dengan negara Argentina dengan mengekspor rumput laut ke Argentina langsung dari Pelabuhan Tenau Kupang menuju Argentina tanpa lagi melalui pelabuhan peti kemas Tajung Mas, Surabaya. Ini merupakan gebrakan pertama dalam era kepemimpinan Viktor-Joss, dan pertama dalam sejarah pembangunan NTT, di mana sebuah propinsi berkategori miskin di Indonesia mampu ekspor rumput laut ke luar negeri, meskipun baru perdana, tetapi patut diapresiasi dan terus didukung agar berkesinambungan karena akan sangat meningkatkan produksi petani-petani rumput laut di NTT.

Wagub Nae Soi saat melaunching Masyarakat Ekonomi NTT di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur, Jumad (28/6/2019) lalu.

Jurus kedua yang dilakukan Viktor-Joss, adalah terbang ke negara tetangga Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), untuk bertemu dengan Presiden RDTL, menjajaki kerja sama Kupang-RDTDL di berbagai bidang. Pasalnya, sebagai negara baru yang satu darah daging dengan Kupang-Indonesia ini sangat layak dan paling mudah untuk membangun kerja sama ekonomi. Meskipun mendapat kritikan pedas dari DPRD NTT, Viktor-Joss menutup rapat telinga mereka karena apa yang mereka lakukan semata demi mempercepat pembangunan ekonomi rakyat NTT, yang sudah mereka kampanyekan sejak masa kampanye 2018 lalu. Alhasil, pertemuan keduanya dengan pemerintah Timor Leste kemudian membuahkan hasil, dimana pemerintah Timor Leste memeinta pasokan rutin kebutuhan pangan, yaitu daging dan telur ayam. Terhadap permintaan itu, Viktor -Joss pun menyatakan siap. Selain pangan, Timor Leste juga berkomitmen menjalin kerja sama di bidang lainnya yang saling menguntungkan ke dua wilayah.

Jurus ketiga, Viktor terbang ke Timur Tengah dengan jet pribadinya bertemu pihak pemerintah dan investor di Negara Israel untuk membangun hubungan kerja sama dalam bidang kelistrikan. Secara khusus perusahan geothernal yang beteknologi canggih untuk menarik mereka datang ke NTT mengolah tenaga panas bumi di Atadei, Ropa, Mataloko dan Ulumbu yang sudah bertahun-tahun dibangun tapi belum tuntas pula. Rupanya, setelah mengidentifikasi masalah, Viktor menemukan bahwa selama ini energi yang diambil hanya energi uap yang ada dipermukaan bumi, bukan digali dari dalam perut bumi. Untuk itu, setelah mengetahui ada perusahan geoternal terbaik, canggih dengan ahli-ahli yang sudah mendunia, langkah seribu pun ditempuh Viktor ke Israel. Meskipun tingkat elektridikasi mengalami peningkatan selama 1 tahun pertama kekuasaannya,ia merasa tidak puas karena sangat lambat dalam memenuhi kebutuhan listrik warga.

“Tingkat elektrifikasi se-Indonesia, NTT masih rendah di bawa Papua. Pada saat kami dilantik tingkat elektrifikasi baru 61 persen, tetapi sekarang sudah 72 persen. Untuk terus meningkatkan listrik, maka kami akan terus mengmbangkan potensi-potensi panas bumi dan geothernal yang ada di Atadei, Ropa, Mataloko, dan Ulumbu Flores. Saat ini, Pak Gubernur tengah melobi perusahaan dari Israel yang mempunyai kemampuan teknologi canggih di dunia untuk langsung menggali energi geoternal dari dalam perut bumi, bukan hanya uap di atas pemukaan tanah saja. selain itu, kami sudah minta dana CSR dari beberapa perusahaan untuk membangun jaringan listrik sampai ke rumah-rumah penduk. Kita punya geoternal di Ropa, Atadei, Ulumbu, dan Mataloko, ini harus kita optimalkan untuk mengatasi kebutuhan listrik di NTT,”kata Wakil Gubernur NTT, Josep Nae Soi, dalam Forum Investasi Masyarakat Ekonomi NTT di Grand Dafam Rohin Hotel, Jogyakarta, Sabtu (29/6/2019) lalu.

Jurus keempat dari Gerakan Masyarakat Ekonomi NTT, Wakil Gubernur Josep bersama Dirut Bank NTT, Eduard Rihi terbang ke Jakarta dan Jogyakarta untuk membawa bendera Forum Investasi Masyarakat Ekonomi NTT untuk menarik para pengusaha, baik para invesor putra-putri NTT diaspora, maupun investor lainnya yang ingin berinvestasi di NTT di berbagai bidang, seperti rumput laut, garam, daging sapi, pariwisata, komoditi, maupun dalam bidang infrastruktur.Dalam pertemuan, Jumad (28/6) di Hotel Borobudur Jakarta, dan dalam pertemuan Sabtu (29/6) di Grand Dafam Rohin Hotel Jogyakarta,Nae Soi berapi-api memaparkan kepada para investor terkait potensi-potensi kekayaan yang dimiliki NTT yang dapat menjadi lokomotif bisnis, investasi dan kerja sama ekonomi.

Dikatakannya, saat ini yang sudah berjalan adalah rumput laut yang sudah dikirim ke Argentina, Kelor, dan juga garam yang sedang diproduksi dan akan dilakukan panen perdana oleh Presiden RI, Joko Widodo pada 1 Agustus 2019 di Kabupaten Kupang. Dan NTT akan menjadi daerah pemasok garam ke Jakarta untuk memenuhi kebutuhan garam nasional. Lebih jauh dia juga meminta para investor berani melakukan investasi di bidang perikanan dan kelautan, karena NTT memiliki sumber daya ikan dan kekayaan laut yang tiada batasnya.

“Tinggal pilih, mau investasi di bidang apa. Kami punya potensi banyak. Kalau bangun pariwisata ayo, karena kami menjadikan NTT sebagai New Tourims Teritory. Bangunlah hotel-hotel restourant dan lain-lain, kalau home stay-home stay kami dorong masyarakat yang bangun karena itu menjadi sumber ekonomi warga setempat,” katanya.

Wagub Nae Soi bersama Dirut Bank NTT, Eduard Rihi, Kepala Badan Penghubung NTT, Viktor Manek dan Pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam pertemuan Forum Iinvestasi Masyarakat Ekonomi NTT di Hotel Borobudur, Jumad (28/6) lalu.

Jurus kelima yang dilakukan Viktor-Joss adalah menarik dan membuka pintu selebar-lebarnya untuk investor dengan menjamin ijin administrasi tanpa fee dan birokrat bersih tanpa korupsi. Gerakan ini, dalam pertemuan dengan para pengusaha di Jogyakata dan Jakarta disambut hangat dengan tepuk tangan gembira. Pasalnya, pada masa yang lalu, para investor yang datang ke NTT selalu mengeluhkan diperas atau diminta sejumlah uang sebelum mereka bekerja.

Wagub Josep mengajak dan membuka pintu seleber-selebarnya bagi investor untuk datang berinvestasi atau membangun usaha di NTT di berbagai bidang, kecuali pertambangan yang masih dimoratorium. Dengan mesin Bank NTT dibawa pimpinan Eduard Rihi, Wagub Josep yang datang bersama Pimpinan dan Deputi IV, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI tersebut, menjamin serta mengajak pengusaha serta warga NTT diaspora mulai menginvestasikan uangnya di Bank NTT untuk mendukung pembangunan yang sedang dilakukan pemerintah. Pasalnya, hanya Bank NTT satu-satunya bank yang 100 persen membangun NTT dibandingkan bank nasional lainnya.

“Kami sudah mulai membenahi birokrasi yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Tidak ada urusan dengan suku, tidak ada urusan dengan agama. You mau adiknya Josef, kakaknya Viktor, kalau tidak kerja bagus out. Kalau dulu harus agama ini agama itu, suku ini atau suku itu. Kalau gubernurnya orang Flores harus semua orang Flores, gubernurnya orang Timur semua orang Timor, gubernurnya orang Rote semua orang Rote. Sekarang ini no Way! Mau setan atau malekat yang datang ke NTT, kalau kerja bagus kami terima. Jangan coba-coba sogok saya dan Viktor. Jika ada investor datang ke NTT, kami terima dan silakan kerja dulu. Soal ijin kami tabrak, kami jamin. Orang mengatakan kami menabrak dan melangar hukum dan undang-undang, ya kami tabrak. Karena bagi kami, hukum tertinggi adalah Bonum Comunne Ex Suprema Lex (kesejahteraan masyarakatlah hukum tertinggi). Hai para investor mau setan mau malaikat datanglah ke NTT. Jangan ragu dan jangan takut, kami jamin. Jika ada anak buah (ASN) yang meminta uang, laporkan ke saya. Saya juga punya CCTV, saya pantau semua kerja ASN. Jika dalam waktu 30 menit tidak melayani saudara-saudara saya tindak tegas, karena peran ASN untuk melayani,” tegas Josep yang masih aktif sebagai penasehat Menteri Hukum dan HAM RI ini.

Jurus keenam adalah jurus dana CSR. Menyadari keterbatasan anggaran APBD NTT yang masih rendah dari tahun ke tahun, Viktor-Josep melakukan terobosan dengan menarik para pengusaha-pengusaha besar memberikan dana CSR untuk mendukung pembangunan NTT di berbagai bidang, seperti infrastruktur, pariwisata dan pendidikan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) NTT. Di bidang infrastruktur akan dibangun Bandara Internasional Komodo di Labuan Bajo oleh kontraktor luar negeri, yaitu dari Canghi-Singapura. Saat ini sudah ditenderkan dan dialah yang menjadi pemenang. Saat ini pula, dengan dukungan CSR, Pemerintah NTT akan mengirim 25 anak-anak NTT untuk belajar di Universitas Quesland. Di bidang kelistrikan pun, akan didukung dengan dana CSR untuk memasang sambungan listrik ke rumah-rumah warga. Menyadari pariwisata adalah mesin ekonomi, maka Viktor-Joss kebut membangun infrastruktur jalan-jalan provinsi NTT.

“Jalan provinsi kita 2.820 Km yang rusak berat 1.650 km. Rusak berat artinya kita jalan 50km tempuh dalam waktu 2 jam. Oleh sebab itu, aksesibilitas kita harus diperbaiki. Bandara udara kita luar biasa. Kita punya 15 bandara, tapi baru bisa dilayani bandara kita yang panjang landasannya 1.650. Ada juga bandara kecil seperti di Sabu yang sudah dilayani oleh pesawat Susi Air milik Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti. Untuk itu, tahun ini kita sudah minta ke Kementerian Perhubungan RI untuk segera dibangun sampai dengan 1.650 Km, supaya bisa melayani wisawatan dan warga lokal dengan lebih baik. Dan kalau ada bencana alam pesawat Hercules bisa turun di sana. Tinggal 3 bandara saja yang belum sampai 1.650, yaitu Sabu Raijua, Larantuka dan Lembata. Yang lain sudah 1.650, termasuk Bandara Internasional Komodo yang tahun ini sudah ditenderkan oleh KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) dan pemenangnya adalah kontraktor dari Changhi, Singpura. Kita harus kerja sama dengan semua pihak yang mau mendukung pembangunan kita, karena kalau kita harap anggaran APBD maka kita sulit maju berkembang,” kata Nae Soi.

Wagub Nae Soi, Kepala Badan Perhubungan NTT, Viktor Manek dan Ketua Ikatan Keluarga NTT Bandung, Jawa Barat, Benny, dalam pertemuan Diaspora NTT di Bandung belum lama ini.

Dengan program JALA (Jalan, Air dan Listrik, Viktor-Joss berkomitmen 3 tahun seluruh jalan provinsi sudah tuntas. Jika jalan bagus transportasi lancar, pariwisata dan ekonomi pasti akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Ada daerah yang sama sekali susah, salah satunya Amfoang di Kabupaten Kupang dan Manggarai yang tidak mempunyai jalan raya, tetapi hanya punya jalan setapak. “Mereka jalan kaki dari Merdeka sampai di Kupang. Mereka tidak punya jalan aspal dan jembatan. Tahun ini kita anggarkan Rp260 Miliar untuk bangun jembatan dan jalan hotmix dua jalur sekaligus. Kita bangun sekaligus, termasuk di Manggarai yang jalannya sangat buruk. hal ini juga untuk mendukung wisawatwan dan ilmuwan dunia yang akan datang melihat Satelit Perbintangan yang akan dibangun di Kabupaten Kupang. Museum Perbitantangan di Lembang Bandung, Jawa Barat akan dipindahkan ke Kabupaten Kupang karena tingkat kegelapan di sana lebih tinggi dari Lembang,” terangnya.

Jurus ketujuh, membangun hubungan kerja sama dengan negara-negara Melanesia. Dimana Wagub Nae Soi akan terbang ke New Zeland untuk menghadiri pertemuan dengan negara-negara Melanesia. Wagub yang sudah fasih menguasai 5 bahasa asing ini akan memaparkan peluang dan potensi-potensi ekonomi NTT guna menarik komunitas negara-negara Melanesia untuk kerja sama dengan NTT. Kesamaan aliran darah dan genetik, bagi Nae Soi menjadi salah satu faktor yang bisa membangkitkan semangat solidaritas negara-negara kawasan Melanesia untuk saling membantu dalam sebuah kerja sama yang saling menguntungkan.

Gerakan besar Masyarakat Ekonomi NTT (ME-NTT) ini patut diapresiasi dan didukung oleh semua pihak, baik seluruh rakyat NTT, para investor di daerah maupun luar daerah, dan terutama seluruh jajaran OPD sebagai pelaksana program besar Viktor-Joss, dimana Viktor-Joss harus mampu menempatkan pejabat ASN sebagai pelaksana program dengan semangat ‘The Right Man on The Right Place, dan membangun relasi harmonis dengan DPRD NTT sebagai mitra kerja pemerintah.

Bertolak dari ketertinggalan, kemiskinan dan korupsi yang menyeret rakyat NTT dalam jurang kemelaratan, maka gerakan Masyarakat Ekonomi NTT adalah jalan tol darat, tol udara dan tol laut membangkitkan NTT dari tidur panjang yang pulas. Sudah saatnya, NTT berdiri dan berlari lompat jauh ke depan. NTT tak bisa lagi dibangun dengan gaya lama yang biasa saja, tetapi harus dengan gaya baru yang membutuhkan pemimpin luar biasa, yang bisa berlari sambil lompat jauh ke depan (Quantum Leap) untuk bersaing dan sejajar dengan provinsi lainnya menuju cita-cita besar “Kita Bangkit Kita Sejahtera,’ sesuai dengan slogan besar kampanye Viktor-Joss pada Pilgub 2018 lalu. (Bungkornell/suarafloresnet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *