Paus Fransiskus: Kehidupan manusia zaman ini makin brutal

by -25 Views

VATIKAN, SUARAFLORES.NET,–Kehidupan manusia zaman ini dilanggar secara brutal, tidak hanya melalui perilaku-perilaku individu, tapi juga sebagai akibat dari pilihan dan pengaturan struktural. Pesan dan peringatan ini disampaikan Paus Fransiskus di Vatikan dalam suratnya yang berkenaan dengan 25 Tahun Pro Vita, yang jatuh pada Selasa (15/1/2019).

Pesan Sri Paus ini diteruskan Direktur Islam Asia dan Pasifik, Padre Markus Solo Kewuta,SVD dari Tahta Suci Vatikan kepada Suara Flores.Net via chanel Whatshapp, Selasa, (15/1/2019) malam. Padre Marco mengatakan, situasi kehidupan seperti ini ditandai melalui hadirnya organisasi-organisasi profit dan laju perkembangan teknologi yang menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk mengkondisikan berbagai hal, seperti penelitian biomedis, orientasi pendidikan, pemilihan kebutuhan dan kualitas hubungan antar manusia. Karena itu, butuh kepekaan kemanusiaan yang tinggi agar tidak ikut terjebak.

Padre Marco, Putra Lewouran untuk Dunia yang juga menjabat Wakil Presiden dan Direktur Yayasan Nostra Aetate bermarkas di Vatikan untuk mendidik Duta-Duta Damai Dunia itu lebih jauh mengatakan, Prespektif bioetika global sebenarnya merupakan sebuah peluang luar biasa untuk memperdalam keterkaitan baru antara injil dan penciptaan agar manusia bisa hidup dengan damai satu sama lain. Sekaligus bisa menghentikan kehidupan zaman ini yang makin brutal.

Baca juga: Gebrakan Baru, Pemda Sikka Siap Pasang 2 TV Raksasa di Pusat Kota

Baca juga: Warga Minta Presiden Groundbreaking Jembatan Bertubin Listrik di NTT

Hal yang sama, sebut Padre Marco sejalan dengan apa yang dianalisis Prof.Bernhard Dahm, Pengamat Indonesia dari Universitas Passau Jerman, ketika Dia mengklaim bahwa turbulensi politik Indonesia sebenarnya adalah ungkapan pencarian identitas bangsa. Dikatakan, bukankah terasa aneh jikalau bangsa yang sudah merdeka hampir 74 tahun dan berdiri tegak dalam rangkulan empat pilar tetapi masih belum menemukan identitasnya sendiri? “Memangnya, siapa atau apa yang telah mencuri atau menyandera identitas ke-Indonesia-an kita?”tohok Bernhard Dahm, tajam.

Ia bahkan ikut mempertanyakan, apa yang telah membuat warga bangsa ini merasa asing di negerinya sendiri. Olehnya, Dahm berpandangan, perlu strategi pembangunan bangsa yang baru menuju Indonesia yang lebih rukun, damai, adil dan makmur. Dimana, tidak boleh tidak dan harus memasukan upaya-upaya pengembalian identitas ke-Indonesia-an melalui Revolusi Cinta Budaya Indonesia ke dalam agenda pembangunan nasional. (Roberth/SFN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *