Pertemuan PENA NTT dengan Tim Kemendikbud di Bali Diskors

by -17 Views

SUARAFLORES.NET- Merespon kritik Perhimpunan Jurnalis (PENA) NTT, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mengutus tim sebanyak 4 orang ke Bali, Kamis (07/12/2017) malam. Kehadiran tim ini dipimpin Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (BKLM Kemendikbud) Ari Santoso.

Ari Santoso dan jajaran, langsung melakukan dialog dengan PENA NTT yang beberapa hari terakhir mengecam pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy. Menariknya dialog yang berlangsung di Center Point Renon, Denpasar, Bali ini berlangsung panas. Pasalnya, dalam pertemuan ini tim dari Kemendikbud tidak bisa menunjukkan transkrip pernyataan Mendikbud yang memicu kegaduhan.

Sementara di sisi lain, tim Kemendikbud mengakui bahwa, pihaknya sudah mendatangi Kantor Biro Jawa Pos di Jakarta, untuk melakukan klarifikasi dengan wartawan yang menulis berita yang memicu reaksi keras PENA NTT di Bali.

Menurut tim Kemendikbud, dalam klarifikasi tersebut, disimpulkan bahwa Wartawan telah menulis kutipan yang berbeda dengan pernyataan Mendikbud. Tim Kemendikbud juga mengaku memiliki rekaman dan transkrip, terkait pernyataan Mendikbud.

Sayangnya saat rekaman dan transkrip pernyataan Mendikbud tersebut diminta wartawan, tim Kemendikbud tidak mampu menunjukkan transkrip dimaksud.

“Jika tidak ada transkrip atau rekaman tersebut, maka tidak ada gunanya pertemuan ini. Bubarkan saja! Kita jadwalkan lagi pertemuan, setelah Kementerian memperdengarkan rekaman pernyataan Mendikbud dan transkripnya” ujar San Edison, salah satu jurnalis senior yang tergabung dalam PENA NTT di Bali.

“Sejak awal, Pak Kepala Biro BKLM Kemendikbud mengaku memiliki rekaman pernyataan Pak Menteri secara utuh. Karena itu, supaya tidak ada dusta di antara kita, sebelum kita bahas lebih jauh, silahkan putar rekaman utuh tersebut, supaya kita sama-sama bedah. Jika tidak, kita akhiri pertemuan ini karena tidak akan ada hasilnya,” timbal Ambros Boli Berani, jurnalis ABC News yang juga tergabung dalam PENA NTT di Bali.

Karena rekaman dan transkrip dimaksud tidak kunjung diberikan tim Kemendikbud, Koordinator PENA NTT Emanuel Dewata Oja yang memimpin jalannya dialog, memutuskan menskors dialog selama 10 menit.

Sebelumnya diberitakan bahwa sejumlah pekerja media asal NTT di Denpasar meminta Presiden Joko Widodo segera ganti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Para pekerja media yang tergabung dalam Perhimpunan Jurnalis (Pena NTT) Bali mengutuk keras statetmen Muhadjir Effendy atas pernyataannya di salah satu media nasional 04 Desember 2017. Bahwa dalam perengkingan, kualitas pendidikan Indonesia paling rendah ini dikarenakan sampel yang diambil dalam survei adalah anak-anak pelajar dari NTT.

Pernyataan Efendi diungkapkan setelah melihat hasil laporan Program for International Students Assesement (PISA) saat pertemuan di UNESCO November lalu. Survei PISA menyebutkan bahwa kualitas pendidikan RI berada pada ranking paling bawah. Menurut Mendikbud, sample dari survei ini adalah siswa-siswi asal NTT. Dalam berita itu ada kutipan langsung “Saya kwatir yang dijadikan sample Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT “.

Menanggapi hal tersebut sejumlah wartawan menggelar pertemuan. Ketua Pena NTT Emanuel Dewata Oja mengatakan, kalimat langsung ini sejatinya terbentuk dari mindset seorang menteri bahwa orang dari NTT seakan-akan semuanya bodoh. “Bagi kami, pernyataan menteri pendidikan telah melukai hati orang NTT, bukan hanya ada di NTT, tetapi melukai hari orang NTT yang ada di seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia,” tegasnya di Denpasar, Selasa (5/12) melalui rillis yang diterima suaraflores.com. (sfn09).