Politik SARA, Devide Et Impera Kolonial Abad 19 Pecah Belah NTT, Tinggalkan !

by -6 Views

JAKARTA, SUARAFLORES.NET,–Setiap kali pilkada gubernur (Pilgub) NTT isu suku, agama dan ras (SARA) selalu menjadi senjata pamungkas bagi kandidat tertentu untuk memenangkan pilkada. Peristiwa politik lima tahun lalu di Pilgub NTT 2013, kini masih terulang lagi, dimana isu Sara dimainkan oleh oknum-oknum politisi untuk menarik simpati dan dukungan rakyat NTT.

Menanggapi isu Sara yang kini masih dimainkan, Ketua Fraksi NasDem DPR-RI, Johnny G. Plate, menegaskan bahwa mengenai politik suku, agama suku, ras dan golongan adalah politik jaman kuno yang harus ditinggalkan generasi baru saat ini. Pasalnya, politik Sara adalah politik ‘devide et impera’ (adu domba) yang diterapkan di jaman kolonial  untuk memecahkan wilayah NTT ke dalam wilayah Timor, Flores, Sumba, Protestan, Katolik, dan Islam agar tidak solid.

“Isu Sara Itu di jaman penjajahan yang dibuat dengan tujuan agar rakyat tidak solid. Kalau itu isu masih dibawa sampai sekarang, berarti kita sedang kembali ke politik abad 19. Kita ini sudah berada di abad 21 milenium tiga. Bukan masa lalu lagi. Generasi muda atau generasi saat ini harus mulai meninggalkan itu,”kata Jhonny yang ditemui Suaraflores.net, belum lama ini di Jakarta.

Baca juga: Penegrian UNIPA Masuk Program Kerja Politik, Ini Penjelasan Tim Alex-Stef

Politik saat ini, terang Johnny, adalah politik yang berorientasi kepada kesejahteraan sebagai satu kesatuan wilayah. Untuk urusan agama adalah hak dan kebesasan setiap individu masing-masing.

Diungkapkan Johnny, di jaman orde baru dimunculkan isu Flores, Timor, Protestan dan Katolik untuk menjaga stabilitas birokrasi. Rakyat di kampung-kampung, seperti di Adonara, TTS,  Timor, Sumba, dan lain-lain di bawa tidak memikirkan itu. Yang paling berkepentingan adalah birokrasi, karena gubernur mempunyai alat dan anak buah adalah birokrasi untuk penyelenggaraan kebijakan.

“Kalau kita masih berpolitik Sara, maka kita berjalan mundur karena kita kembali lagi ke politik gaya Abad 19. Sedih kalau ini masih terjadi lagi. Kita tidak akan maju berkembang,”katanya.

Baca juga: ROMA Pecahkan Rekor Jika “Patahkan” Alex dan Ansar

Meski kampaye Sara masih tetap dilakonkan beberapa oknum tim sukses, Johhny mengaku yakin bahwa rakyat NTT kini sudah cerdas dan lebih bijaksana dari sebelumnya. Dia sangat yakin Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat-Josep Nae Soi (Viktory-Joss) yang diusung koalisi NasDem, Golkar, Hanura dan PPP, akan memenangkan PIlgub NTT.

“Kami percaya dan yakin masyarakat NTT sudah cerdas dari sebelumnya. Jadi kami yakin Victory-Joss menang karena rakyat NTT yang sudah cerdas akan memilih pemimpin yang mengisi kebutuhan mereka. Pilkada ini hanya satu titik menyiapkan pemimpin. Setelah selesai Pilkada, semua calon bersama pendukung dan simpatisannya harus kembali bersatu berekonsiliasi politik untuk bekerja bersama-sama untuk membangun NTT,” tutupnya.(bungkornell/sfn)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *