Publik Mulai Ragukan Kematian Bupati Marsel Petu Akibat Serangan Jantung, TPDI: Harus Diotopsi!

by -3 Views

JAKARTA, SUARAFLORES.NET,–Bupati Kabupaten Ende Ir. Marsel YW. Petu telah meninggalkan seluruh rakyat Ende untuk selama- lamanya sejak Minggu dini hari tanggal 26 Mei 2019 lalu. Kepergian Bupati Ende Ir. Marsel Petu sungguh-sungguh mengagetkan, bukan saja oleh keluarga terdekat yang ditinggalkan tetapi juga oleh hampir seluruh masyarakat Kabupaten Ende dan Flores,NTT, karena tidak pernah terbersit informasi sedikit pun bahwa Ir. Marsel Petu sedang mengidap penyakit jantung atau penyakit bawaan lainnya yang sangat mengganggu aktivitasnya selaku Bupati Ende selama dua periode berjalan memimpin Ende.

Koodinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus, SH, mengaku, masyarakat luas mulai mempertanyakan hal ikhwal kepastian sebab-sebab kematian Bupti Ende Ir. Marsel Petu, apakah benar Marsel Petu meninggal karena serangan jantung yang mendadak pada tanggal 26 Mei 2019 dini hari itu? Pertanyaan logis ini, kata Petrus, berdasarkan informasi dari sejumlah sumber yang dekat dengan almahrum Ir. Marsel Petu bahwa selama ini tidak pernah ada keluhan akan adanya sakit jantung yang diderita almarhum. Pasalnya, belum lama ini almarhum mengikuti pemeriksaan kesehatan diawal seleksi persyaratan sebagai bakal Calon Bupati Ende dalam pilkada langsung beberapa bulan lalu, dan oleh tim dokdter dinyatakan sehat walafiat.

“Tidak adanya informasi tentang gangguan kesehatan yang diidap, dan memang faktanya tidak ada keluhan dari almahrum atau ada tanda-tanda fisik yang memberikan tanda-tanda secara gestural atau postural bahwa almarhum sedang mengidap penyakit yang sangat mengganggu aktivitasnya untuk memimpin Ende untuk periode berikutnya. Hal itu membuat sejumlah pihak mulai memberikan analisa ke arah sebab-sebab kematian Marsel Petu sebagai tidak wajar alias bukan serangan jantung. Bahkan sebagian pihak menghubungkan dengan persoalan politik lokal menyangkut kepemimpinan 5 tahun ke depan bagi Kabupaten Ende,” terang Petrus Selestinus dalam keterangan tertulisnya yang diterima media, Jumad, (31/5/2019) malam. 

Menurutnya, semua dinamika dan cara pandang serta tafsir masyarakat Ende seputar sebab-sebab kematian Marsel Petu tentu sah-sah saja apalagi alm. Marsel Petu adalah seorang pejabat publik yang sekaligus milik publik Ende, sehingga di dalam dirinya tidak hanya ada banyak sahabat karib yang dekat dengan almahrum, akan tetapi juga ada ‘musuh-musuh politik’ almarhum pasti ada termasuk ‘musuh dalam selimut.’ Peristiwa kematian Marsel Petu, selain meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarganya dan sahabat-sahabat dekatnya, akan tetapi juga menjadi khabar baik bagi sebagian orang yang menghendaki kematian almahrum. 

Karena itu, lanjut dia, spekulasi yang berkembang seputar sebab-sebab kematian almahrum harus dijawab secara pasti dan segera tentu saja dengan sebuah proses yang lebih spesifik, yaitu Otopsi. Hanya dengan otopsi penentuan sebab-sebab kematian yang tidak wajar bahkan menjadi polemik di tengah masyarakat bisa dipastikan sebabnya dan segera mengakhiri polemik yang sedang berkembang.

“Oleh karena Marsel Petu sudah menjadi milik publik, maka publik berhak tentu saja dengan restu keluarga almahum dan Pemerintah Daerah meminta Dokter Ahli Forensik untuk melakukan Otopsi agar spekulasi seputar sebab-sebab kematian menjadi lebih jelas alias terang benderang,” tegas Petrus.

Untuk itu, dia meminta Kepolisian Daerah (Polda) NTT harus melakukan penyelidikan untuk merespons dinamika yang berkembang di tengah masyarakat Ende, seputar sebab-sebab kematian Marsel Petu yang mulai dihubungkan dengan persoalan politik suksesi. Hal ini untuk meredam polemik yang berkembang ke arah yang tidak sehat.

“Polisi perlu mendengar sejumlah pihak terutama mereka yang seharian mendampingi Marsel Petu hingga malam sampai dinihari kematiannya. Apa saja yang dikonsumsi, siapa saja yang menghubungi kontak telepon dengan Marsel, mengapa pada malam itu ke Kampung Solor, apakah hanya sekedar mau makan malam atau memang bertujuan untuk mampir di rumah Chen Abubakar, atau apakah pertemuan di Rumah Chen Abubakar sudah diagendakan, dan lain-lain ?” Tanya Petrus.

Diberitakan sebelumnya, Bupati Ende, Ir. Marselinus Petu, Minggu (26/5) dini hari sekitar pukul 02.10 Wita meninggal dunia di Rumah Sakit Siloam Kupang, NTT. Ia meninggal setelah kurang lebih sebulan kembali memimpin Kabupaten Ende pasca dilantik oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat di Aula El Tari Kupang, Minggu (7/4/2019) lalu.

Sebelum diterbangkan ke Kabupaten Ende, Jenasah Sang Bupati disemayamkan di kediaman Anggota DPRD NTT, Kasimirus Kolo di Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Keluarga sempat berencana semayamkan di Naikola namun pertimbangan keluarga, rumah Kasimirus lebih dekat dengan Bandara El Tari Kupang, sehingga jenaza disemayamkan di rumah Kasimirus.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari keluarga di RS Siloam Kupang, Bupati Marsel yang juga Ketua Golkar Ende, sejak hari Kamis (23/5) berada di Kupang untuk mengikuti kegiatan evaluasi Pilpres dan Pileg di DPD Golkar NTT, Jumat (24/5).

Usai kegiatan di DPD Golkar NTT, Marsel tidak kembali ke Ende. Pada Senin (27/5) besok rencananya ada penyerahan LHP atas LKPD Kabupaten Ende di Kantor BPK Provinsi NTT. Trafisnya, pada Minggu dini hari ia dilarikan ke RS Siloam Kupang karena diduga mengalami serangan jantung. Sesaat kemudian, Bupati berusia 55 tahun itu dikabarkan meninggal dunia.(Sfn-01/Dm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *