Selestinus Sebut SBY Lalai Berantas Radikalisme

by -11 Views
Suara Flores

SUARAFLORES.NET – Paham radikalisme tumbuh subur di Indonesia. Paham ini sesungguhnya tumbuh subur pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dan di sana, SBY lalai berantas paham radikalisme.

“Kelompok minoritas diculik ketika melakukan aktifitas keagamaan, tetapi pemerintah membiarkan. Pemerintah tidak berani menindak. Dan itu terjadi pada masa pemerintahan SBY,” ujar Petrus Selestinus selaku Ketua Bidang Hukum DPP Partai Hanura dalam acara Dialog Kebangsaan yang digelar di Lokaria, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Pulau Flores beberapa waktu lalu.   

Namun demikin, Petrus Selestinus memuji keberhasilan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama sepuluh tahun memimpin Indonesia.

“Dalam bidang yang lain SBY dikatakan hebat, tetapi dalam soal ini kita melihat SBY lalai. SBY terlalu banyak memberikan kesempatan kepada kelompok atau ormas tertentu menyebarkan luaskan paham yang disebut dengan radikalisme. Paham yang ingin mengganti ideologi Negara ini,” tandas Petrus Selestinus, Calon Anggota DPR RI dari Partai Hanura Dapil NTT 1.

Sebelumnya diberitakan, Politisi  Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Petrus Selestinus, SH, menggelar sebuah kegiatan akbar berjudul “Dialog Kebangsaan Jaga Nian Tana” di Lokaria, Maumere, Kabupaten Sikka. Dialog atau dalam bahasa Sikka disebut bibong babong atau kula babong, dan Jaga Nian Tana’ yang berarti menjaga alam atau bumi atau wilayah tersebut dihadiri ribuan warga. Ada tokoh adat, tokoh budaya, tokoh parpol, tokoh agama dan pemerintah, dan warga. Acara dialog ini tergolong unik dan langka karena belum pernah terjadi di Sikka seorang politisi menggelar sebuah dialog kebangsaan  di kampung dengan mengundang lintas golongan, agama dan parpol.  

Baca juga: Dialog Kebangsaan Jaga Nian Tana, Cegah Radikalisme, Perkuat Budaya Ekonomi dan Pendidikan

Baca juga: Catatan PMKRI dI Balik Aksi Damai Menyikapi Isu Radikalisme

Baca juga: Aksi PMKRI Tolak Radikalisme di Labuan Bajo

Pada kesempatan lain, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus, SH, meminta aparat Polri dan TNI segera mengambil langkah antisipatif dan penindakan untuk membersihkan kaum radikal dan teroris yang “bergentayangan” di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kepolisian dan TNI harus menyiapkan langkah antisipatif untuk menindak kelompok radikal dan teroris di NTT. Jangan sampai menunggu terjadinya peristiwa dimana masyarakat mengeksekusi sendiri temuan di lapangan, yang bisa menimbulkan gesekan antar warga masyarakat karena saling curiga baru aparat bertindak,” tegas Selestinus dalam pernyataan tertulisnya yang diterima Suaraflores.net, Selasa (27/12/2018) .

Ditegaskan Selestinus, mencegah untuk menghabisi kelompok radikal dan teroris, lebih baik dari pada kecolongan. Karena, dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas kelompok radikal dan teroris sangat luar biasa besar. Bukan saja pada persoalan mengganti ideologi negara Pancasila tetapi nyawa umat manusia pun ikut terancam dan hilang secara mengerikan. “Konstatasi Mendagri soal keberadaan kelompol radikal dan terorisme yang sedang bergentayangan di NTT, memastikan bahwa TNI, Polri dan BIN sudah memilki data detail, baik nama, tempat tinggal dan seluk beluknya harus direspons secara positif. Jangan meremehkan konstatasi Mendagri tersebut,” kata Selestinus. (sfn02).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *