Sokola Institute, Dari Rimba Ke Sumba

by -7 Views

WAIKABUBAK, SUARAFLORES.NET,- Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menduduki Peringkat Ketiga sebagai provinsi dengan prosentase buta huruf tertinggi di Indonesia. Sementara Sumba sendiri secara umum memiliki prosentase penduduk buta huruf yang tinggi. Hal ini yang mendorong Butet Manurung bersama rekannya dari Sokola Institute harus keluar dari rimba menuju Sumba.

Pihak Sokola Institute melihat Sumba memiliki adat dan budaya yang sangat kuat. Ini bisa mendorong pembangunan di sektor pariwisata selain karena keindahan alamnya. Namun, dalam berbagai publikasi, adat dan budaya ini justru sering dituding menjadi penghambat Pendidikan di Sumba.

Sebagai langkah awal, Sokola pimpinan Butet Manurung, melakukan kajian awal yang dilakukan pada Agustus – September 2018 lalu. Dalam kajian itu pihaknya menemukan beberapa persoalan Pendidikan antara lain angka putus sekolah yang tinggi dan minimnya kemampuan literasi. Jumlah guru dan infrastruktur Pendidikan yang belum memadai serta terdapat ritme kehidupan harian dan adat istiadat yang tidak terakomodir oleh system Pendidikan formal.

Dalam presentasinya di forum rapat koordinasi bidang Pendidikan yang digelar Bappeda Sumba Barat pada Selasa (10/9) lalu di Waikabubak, Butet Manurung, menjelaskan terkait alasannya ia mendatangi Sumba Barat. Di wilayah ini, pihaknya memilih Kampung Adat Sodan sebagai sasaran pertama program Sokola di Sumba. Ke depan, Sokola akan menjangkau kampung-kampung lain di wilayah Desa Laboya Dete guna meningkatkan kemampuan anak di bidang literasi. Untuk melaksanakan misi ini, Sokola Institute menugaskan 2 orang relawannya yang telah berpengalaman untuk tinggal menetap di Kampung Adar Sodan. Dua relawan pun telah memulai program literasi dasar  sejak 28 Agustus 2019 lalu. Program ini direncanakan berlangsung selama 2 tahun.

Butet Manurung, menjelaskan, relawan tinggal di komunitas selama 24 jam setiap hari atau dengan kata lain menetap bersama masyarakat. Oleh karena masih baru, pada minggu-minggu awal, para relawannya mulai mempelajari dan mendalami Bahasa, budaya serta kebiasaan masyarakat.

“Dalam sebuah obrolan dengan Bapak Rato Kedukuri dari Kampung Sodan yang sekaligus menjadi Kepala Dusun IV Taramanu Desa Laboya Dete, ia membayangkan kami datang mendirikan sekolah yang lengkap, “jelas Butet Manurung.

Mengutip yang dikatakan Rato Kedukuri tersebut, Butet Manurung, menjelaskan, pada saat anak-anak dari kampungnya mendapatkan Pendidikan tinggi dan juga memahami dengan baik adat istiadat dan tetap menguasai cara-cara hidup di kampung seperti mengelola kebun dan ternak, menenun, menganyam tikar dan lain-lain, maka di situlah maksud rato sebagai sebuah sekolah yang lengkap. Selain pengetahuan bertambah tetapi tetap melestarikan adat dan budaya daerahnya.  (bkr/SFN).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *