Tahun Perselingkuhan

by -6 Views
Suara Flores

Cerpen Karya:Karolus Dolu Tien Toulwala

Aku heran…, aku heran! Kutiban syair lagu fals anak negeri, yang kudengar pagi ini, melalui stasiun radio swasta, milik seorang pengusaha terkenal di kotaku. Syair lagu yang mengkritik dan menggelitik pikiranku. Syair lagu yang membuat nafas sekaligus nafsuku menunjuk amarah.

Aku heran dengan negaraku. Negara yang mudah jatuh cinta untuk mengobral kesetiaan rakyat. Negara yang mudah berselingkuh demi memperanak 10% keluarga kaya kelas atas. Anak-anak ABG sering menyebut negara penggombal, karena rakyat sebatas objek yang digombali dengan resep cinta kapitalis-neoliberalis. Suara merdeka rakyatku dipolitisir dengan politik borjuasi oleh para boneka imperialis, yang menduduki kursi penting negaraku. Hmmmm…aku haru, ketawaku untuk menutup eksposisi cerita ini.

Tahun 2018, merupakan tahun perselingkuhan. Tahun dimana politisi dadakan mengawali kisah cintanya dengan rakyatku. Perselingkuhan yang memperebutkan kursi eksekutif dan legislatif negaraku. Kursi yang dinyatakan oleh satrawan independen sebagai kursi panas. Ada juga para aktivis kerakyatan sering menyebut kursi para bangsat. Sedangkan dari pihak politisi dadakan sering menyebutnya kursi kepentingan rakyat tertindas.

Perselingkuhan negaraku diawali dengan cerita panas orang dewasa. Bukan seperti cerita sex yang mudah kita baca disetiap majalah erotis, karya penyair sepi. Ataukah seperti kalimat persuasif seorang PSK dengan lelaki hidung belang. Akan tetapi maksudku, cerita yang menitikberatkan pada usia 17 tahun keatas. Cerita yang mengarah pada siapa pemilih, pada pemilu mendatang. Cerita yang menabung suara dari lubang-lubang suara, demi kekuasaan.

Pasca penetapan daftar calon tetap oleh panitia perselingkuhan di kotaku, tak heran aktor politisi dadakan mulai gencar memasang baliho, poster, sticker, bahkan uang lauk pauk untuk biaya sosialisasi calon pemimpin di RTku. Semua stratak perselingkuhan mulai diakses. Tak heran, siksak mobil keluar masuk dusunku tak kunjung sepi. Terlihat pula wajah-wajah baru, seperti para pematung jalanan, sedang keasyikan memasang baliho di pinggiran jalan paling strategis. Yeach semuanya demi kenikmatan kursi para bangsat…(***).