Trans Utara Flores, “Penyambung Lidah dan Perut Rakyat,” Viktory-Joss Siap Selesaikan

by -10 Views

MAUMERE, SUARAFLORES.NET,–Jalur jalan strategis Pantai Utara (Pantura) Flores atau yang dikenal juga dengan Trans Utara Flores hingga kini masih belum menjadi poyek prioritas pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Sejak jaman Gubernur NTT pertama El Tari hingga Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Trans Utara Flores masih terlihat buruk. Bahkan saat ini terlihat makin parah.

Selain diterjang ombak laut yang keras, akibat banjir dan curah hujan membuat ruas jalan pantura putus, seperti di Desa Kolisia beberapa bulan lalu, yang menyebabkan transportasi lumpuh total.

Dari berbagai sumber informasi yang diperoleh media ini, jalur Trans Utara Flores ini membutuhkan anggaran puluhan triliun untuk menuntaskannya. Pasalnya, tidak mudah menuntaskan jalur panjang dari Kabupaten Sikka, Kabupaten Ende sampai Kabupaten Nagekeo itu dengan dana APBD 1 maupun APBD II dari Provinsi NTT maupun dari ketiga kabupaten terkait.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT, Ir. Andreas W. Koreh, MT, beberapa waktu silam, kepada SUARAFLORES.NET menerangkan bahwa anggaran yang bersumber dari APBD NTT tidak bisa atau sangat tidak cukup untuk membiayai pembangunan jalur jalan tersebut.

“Setiap tahun, APBD NTT untuk infrastruktur selalu kurang. Jangankan untuk trans utara, untuk kebutuhan pembangunan yang telah diprogramkan Dinas PU pun harus dipending lantaran anggaran terbatas,” kata Andre sembari menambahkan bahwa jalur trans utara Flores oleh Gubernur NTT telah diusukan menjadi jalur jalan stretegis nasional, sehingga pembiayaannya dari pemerintah pusat.

Sebelumnya, Mantan Kepala Dinas PU NTT tiga periode, Ir. Piter Djami Rebo,M.Si, di era kepemimpinan Gubernur Piet Alexander Talo,SH, jalur jalan tersebut sempat mendapat perhatian anggaran dan diperbaiki seadanya sesuai anggaran.

Dikatakan Djami Rebo, waktu dirinya menjadi sebagai kepala PU, ia membangun dengan melebarkan dan memperbaiki ruas jalan demi melancarkan arus transportasi untuk menjadi jalur alternative yang mengangkut bantun bagi warga yang mengalami bencana gempa bumi tektonik pada tahun 1992.

”Waktu itu ada anggaran dari pemerintah pusat karena kita sedang mengalami bencana. Kami membuka jalur tersebut sebagai alternative menyalurkan bantuan bagi warga Flores,” kata Djami Rebo.

Baca juga: Enggan Bersosialisasi Diri, Polisi Amankan Seorang Pria Asal Subang

Waktu terus berlalu, seiring pergantian Presiden Megawati oleh Presiden Susilo  Bambang Yudoyono (SBY), jalur Trans Utara Flores  tidak pernah tersentuh sedikit pun. Meski SBY menjanjikan akan memberikan dana puluhan triliun untuk pembangunan di NTT, namun hingga SBY mengakhiri masa jabatannya dua periode jalur tersebut tidak kebagian anggaran APBN.

Bukan hanya pada masa SBY, Presiden Joko Widodo pun sama. Anggaran untuk pembangunan jalur jalan strategis nasional itu pun belum ada kabar pasti.

Dengan program Nawacitanya, Joko Widodo lebih memprioritaskan pembangunan 7 bendungan di NTT, pembangunan pos perbatasan Indonesia-Timor Leste di Motaian dan pembangunan jalan di daratan Timor. Trans Utara Flores belum mendapat sentuhan Jokowi.

Lebih jauh, dari pantauan media ini, dalam sejarah parlamen senayan, tampilan  Melchias Marcus Mekeng Bapa dari Partai Golkar sebagai Ketua Badan Anggaran. Sewaktu Melky menjabat sebagai Ketua Badan Anggaran di DPR-RI, pembangunan jalan negara/nasional di Pulau Flores mendapatkan angin segar.

Dilansir berbagai media massa, Melky dapat memperjuangkan anggaran yang besar dari kantong APBN untuk memuluskan jalan negara dari Kota Labuan Bajo, Manggarai Barat hingga Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Alhasil, jalur jalan tersebut pun akhirnya tampil lebih mulus mengkilat memperlancar arus barang dan jasa serta pariwisata dari Flores Bagian Barat hingga Flores Bagian Timur dengan cepat.

Rupanya, upaya Bung Melky untuk membangun dan menuntaskan jalur jalan alternatif Trans Utara Flores tidak kesampaian lantaran masa jabatan politiknya di DPR-RI sebagai Ketua Badan Anggaran DPR-RI berakhir.

Pasca Melky tidak lagi menduduki jabatan strategis, sebenarnya harapan untuk mempercepat pembangunan Trans Utara Flores ada pada putra NTT Fary Djemi Francis dari Partai Gerindra. Pasalnya, Fary terpilih sebagai Ketua Komisi V yang membidangi pembangunan Infrastruktur.

Sayang seribu sayang, dari data dan informasi yang diperoleh media, Fary lebih banyak meperjuangkan pembangunan infrasruktur di daratan Pulau Timor dari pada Trans Utara Flores. Hal tersebut bisa diduga karena dapil Fary dari Pulau Timor dan Sumba, bukan dari dapil Flores.

Sejak Fary menduduki jabatan sebagai Ketua Komisi V hingga tahun keempat, jalur jalan strrtegis nasional Trans Utara Flores tidak tersentuh secara menyeluruh. Diduga kuat, anggaran infrastruktur dari Kementerian Pekerjaan Umum setiap tahun lebih banyak turun ke Pulau Timor dari pada ke Pulau Flores.

Melihat jalur Trans Utara Flores yang terus dibiarkan merana dari tahun ke tahun, warga penghuni di kawasan strategis pertanian, perkebunan dan pariwisata itu merasa kecewa. Mereka berharap pada periode kedua nanti, Presiden Ir. Joko Widodo segera mengulurkan tangan dengan memberikan alokasi anggaran besar untuk menuntaskan jalur jalan yang diselimuti kawasan bebukitan dan pantai yang indah itu.

Baca juga: Heinrich Bollen, Sang Gembala Banyak Gelar Rayakan 60 Tahun Imamat

Mereka juga berharap gubernur dan wakil gubernur NTT yang baru nanti, tidak masa bodoh (cueq) dengan kondisi jalur jalan yang menghubungkan perkampungan warga petani dan nelayan tersebut.

“Kami minta pemerintah pusat segera menuntaskan pembangunan jalur jalan Trans Utara Flores. Daerah itu adalah kawasan yang potensial untuk pertanian, kelautan, perkebunan dan pariwisata. Empat sektor unggulan ada di wilayah itu. Padi, sayur, buah-buahan, ikan, rumput laut, garam, dan lain-lain banyak dipasok dari wilayah itu ke Maumere dan sekitarnya. Daerah itu juga merupakan salah satu lumbung pangan untuk warga Flores,”.

“Selain lumbung pangan, kawasan Pantura adalah kawasan strategis pengembangan ekonomi dan pariwisata Flores. Oleh karena itu, kami minta Presiden Ir. Joko Widodo dan gubernur NTT akan datang harus menuntaskan jalur jalan Trans Utara Flores. Anggaran yang diturunkan harus lebih adil sesuai potensi dan kebutuhan rakyat demi mamajukan NTT,” kata wakil  rakyat Flores di DPRD NTT, Ir. Oswaldus, M.Si  saat ditemuai media ini di ruang kerjanya, beberapa bulan lalu.

Mantan Kepala Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Kupang, Arnold Jansen dalam perbincangan dengan media ini terkait pembukaan jalur Fery Adonara-Maumere tahun 2017 lalu, di ruang kerjanya mengatakan, jalan Trans Utara Flores adalah kebutuhan utama bagi warga Flores. Jikalau jalur itu sudah mulus, maka arus transportasi lebih baik dan ekonomi bertumbuh lebih cepat.

Pasalnya, kata dia, dengan dibukanya jalur Fery lingkar Flores, maka warga dengan mudah memasarkan hasil produksi pertanian mereka di mana saja. Asalkan, jalur jalannya dibangun berkualitas sehingga transportasi di darat mulus menuju pelabuhan Fery.

“Pemerintah dan warga boleh saja meminta kami membuka jalur Fery karena membutuhkan. Semua itu, kami bisa lakukan jika layak berdasarkan kajian. Kalau jalur kapal fery sudah dibuka lalu tidak dimanfaatkan oleh warga untuk berdagang dengan alasan transportasi daratnya buruk ya itu bukan salah kami,” tohok pria yang tegas kelahiran Maumere, Flores ini.

Nah, menjawab kebuntuan pembangunan jalan Trans Utara Flores, di musim Pilkada Gubernur NTT 2018, ada 4 calon gubernur telah memaparkan visi misi dan program kerjanya di bidang infrastruktur. Dari pantauan SUARAFLORES.NET, dalam Debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT putaran pertama di stasiun Inews TV Kebon Jeruk, Jakarta Barat, mereka tidak menyentuh sendikit pun terkait pembangunan jalur Trans Utara Flores.

Namun demikian, dari data dan fakta yang dikumpulkan crew SUARAFLORES.NET di Flores selama kampanye, ada satu pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Laiskodat-Josep Nae Soi (Viktory-Joss) nomor urut empat yang sangat gencar berbicara tentang pembangunan infrastruktur sebagai program priotas untuk memajukan Flores, Timor dan Sumba. Kedua politisi senayan ini, mengaku dan menegaskan siap menuntaskan pembangunan infrastruktur di kawasan strategis pariwisata, pertanian, perkebunan dan kelautan.

“Program infrastruktur kami beri nama JALA (jalan, listrik dan air).  Jalan –jalan provinsi akan kami selesaikan dalam waktu tiga tahun, dan jalan-jalan strategis nasional akan kami perjuangkan di pemerintah pusat dan DPR-RI agar dikucurkan anggaran APBN untuk menuntaskannya. Di Pulau Flores, salah satu yang menjadi prioritas adalah jalur Trans Utara Flores. Ini komitmen kami yang akan kami lakukan bila Viktory-Joss diberikan mandat memimpin NTT lima tahun ke depan,” kata tim pemenang Viktory-Joss, Alexander Take Ofong, S.Fil, yang dihubungi SuaraFlores.Net, Kamis ( 17/5/2018) di Kupang.

Menurut Alex Ofong yang juga Wakil Ketua DPRD NTT ini, Viktory-Joss memiliki akses jaringan kuat di pemerintah pusat, baik di kementerian, dirjen-dirjen dan juga di DPR-RI. Jalur Trans Utara Flores tentu akan lebih cepat dibangun apabila ada dukungan kuat dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat, karena membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Apakah nanti anggaran itu bertahap setiap tahun atau sekaligus, itu kewenangan Pemerintah dan DPR. Soal itu, tidak perlu ragukan Viktory-Joss. Mereka  memiliki akses sumber dana dan jaringan investor lain yang sudah siap.

Diungkapkan Alex, salah satu kemudahan bagi untuk membangun Trans Utara Flores, yaitu Viktory-Joss berasal dari Partai Nasional Demokrat (NasDem), Partai Golkar, Partai Hanura  dan PPP yang sedang berkuasa di Pemerintahan dan di DPR-RI. Potensi politik yang strategis ini, menjadi peluang emas memuluskan komunikasi terkait pembangunan jalur jalan Trans Utara Flores.

“Mereka pasti membangun industri pariwisita sebagai basis kemajuan ekonomi Flores. Untuk itu, pembangunan infrastruktur (jalan, listrik dan air) adalah hal yang prioritas. Mari bersatu menangkan pasangan ini untuk mempercepat pembangunan di Pulau Flores dan NTT, termasuk Trans Utara Flores,” kata alumnus STFK Ledalero yang juga Sekretaris DPW Partai NasDem NTT ini. (korneliusmoanita.s.fil/sfn)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *