Uji Kelayakan 15 Bacagub NTT, PDIP Partai Paling Demokratis

by -18 Views

JAKARTA, SUARAFLORES.NET,- Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP-PDIP), menggelar Uji Kepetutan dan Kelayakan (Fit and Proper Test) bagi para bakal calon gubernur dan wakil gubernur NTT yang mendaftar di DPD NTT maupun di DPP PDIP. Dalam kegiatan yang  diadakan di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro  58, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (17/10/2017) diikuti 15 bakal calon. Sejarah baru pun lahir di rumah besar demokrasi, PDIP menjadi partai yang paling diburu oleh pemburu  kursi gubernur dan wakil gubernur NTT, baik dari kader dan non kader atau pentolan partai-partai lain.  PDI-Perjuangan pun membuktikan diri sebagai partai paling demokratis dalam hajatan Pilgub NTT 2018.

Mencermati begitu banyaknya para calon yang mendaftar di PDIP, partai besutan Megawati Soekarnoputri ini telah membuktikan diri sebagai partai besar yang paling berpengaruh sehingga diburu oleh para politisi maupun calon politisi. Pasalnya, dari semua partai yang ada di NTT, PDIP memiliki bakal calon gubernur yang paling banyak. Sedangkan, partai lain, seperti Golkar hanya memilik satu calon tunggal, yaitu Melky Lakalena, Partai NasDem hanya satu calon tunggal, yaitu Jacky Ully, Partai Gerindra hanya punya satu calon, yaitu Esthon Foenay, dan PKB bersama Hanura menduduki urutan kedua karena memiliki bakal calon lebih dari tiga, dan di posisi terakhir adalah PKPI mengusulkan 3 bakal calon gubernur.

Dari pantauan media di DPP PDIP, para calon yang datang mengikuti test tersebut, antara lain, Drs, Kristo Blasin (Wakil Ketua DPD PDIP NTT), Daniel Tagu Dedo (Mantan Dirut Bank NTT),  Ayoub Titu Eki (Bupati Kupang), Ibrahim Agustinus Medah (Mantan Ketua Golkar NTT), Marianus Sae (Bupati Ngada), Honing Sanny (Mantan Anggota DPR-RI PDIP), Raymundus Fernandes (Bupati Timor Tengah Utara) Robert Marut, Yosep Suni,  Daniel Herison Wadu, Aloysius Lele Madja, Ignatius Irianto Djou dan Novianto Umbu Pati Lende (Anggota DPRD NTT, Fraksi PKB). Sementara itu, Lusia Adinda Lebu Raya dan Andreas Hugo Parera  yang juga didorong maju tidak mengikuti test tersebut.

Sebelumnya, sumber media ini menuturkan, nama Lusia dan Andre mewarnai proses demokrasi di tubuh partai banteng moncong putih tersebut. Ada beberapa anggota partai mengusulkan nama Lusia dan Andre dalam rapat khusus DPD PDIP NTT yang membahas nama-nama bacagub yang akan diusulkan ke DPP PDIP. Lusia sendiri enggan berkomentar ke publik terkait pengusulan nama mereka.  Ia memilih diam karena ia tidak mendaftar dalam proses pendaftaran yang dilakukan DPD PDIP beberapa bulan lalu. Sedangkan, Andreas Hugo Parera sudah berkali –kali menegaskan dirinya tidak maju dalam pilgub NTT 2018. Ia lebih memilih menjalankan tugas-tugas partai di DPR-RI. “Saya tidak maju. Meski ada dorongan dari berbagai pihak, termasuk para kader partai tapi saya tidak maju,” kata Andre dalam sebuah kesempatan di Kupang, belum lama ini.

Dari penelusuran media ini,  proses keputusan calon gubernur dan wakil gubernur PDIP kali ini merupakan sejarah baru bagi partai berslogan demokrasi dan wong cilik itu. Pada pilkada sebelumnya, tiga kali berturut-turut, PDIP NTT begitu cepat mengumumkan ke publik calon gubernur dan wakil gubernurnya, tanpa melalui proses yang begitu lama memakn waktu. Pada Pilgub NTT sebelumnya, PDIP memutuskan Gubernur NTT, Piet Alexander Talo berpasangan dengan Ketua DPD PDIP, Frans Lebu Raya, selanjutnya Frans Lebu Raya maju berpasangan dengan Esthon Foenay dan pada periode ketiga,  PDIP dengan cepat kembali memutuskan  Frans Lebu Raya maju berpasangan dengan  Benny Alaxander Litelnony. Namun, untuk periode ini, PDIP NTT bermain panjang dengan tahapan dan mekanisme modern yang lebih lama, dengan manuver meliuk-liuk 15 bakal calon yang akhirnya menukik ke satu calon yang dijagokan . Hal ini diduga karena tarik menarik kepentingan politik besar di tubuh partai tersebut.

Ketua DPP PDIP Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Andreas Hugo Parera

Mengenai proses test yang sangat demokratis tersebut, Ketua DPP PDIP Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan,  Andreas Parera, yang dikonfirmasi media ini menerangkan bahwa DPP PDIP melakukan fit and Proper Test bagi para bakal calon yang sudah mendaftar di DPD dan di DPP PDIP. Test ini merupakan rangkaian proses yang dilakukan partai untuk menentukan calon gubernur dan wakil gubernur NTT yang akan direkomendasikan.

Diterangkan Andre, melalui ponselnya, Rabu (18/17) pagi, kegiatan tersebut juga merupakan uji kelayakan dan kepatutan tidak berbeda dengan yang dilakukan partai  terhadap bakal calon kepala daerah lain. Dalam proses ini,  setiap calon mengikuti dua tahapan wawancara, tahapan pertama wawancara yang dilakukan oleh Himpunan Psyikologi Indonesia (HIMPSI). Tujuannya, untuk  melihat kemampuan kepemimpinan , kemampuan menyelesaikan masalah,  dan integritas dari setiap bakal calon.  Sedangkan wawancara yang kedua dilakukan oleh DPP PDIP, untuk mengetahui pengetahuan dan pemahaman setiap bakal calon tentang ideologi Pancasila.

Disinggung media, terkait hasil test dan proses selanjutnya, Andrea Parera, mengatakan, saat ini juga  DPP PDIP sedang melakukan survey  untuk mengetahui elektabilitas bacagub dan bacawagub NTT.  Survey ini, kata dia, dibiayai oleh para bakal calon secara gotong-royong. Setelah hasil wawancara dan  survey keluar, maka PDIP  melakukan rapat untuk menentukan siapa yang menjadi calon gubernur dan wakil gubernur NTT. Setelah ditetapkan maka partai akan mengeluarkan rekomendasi.

Raymundus Fernandes pose bersam seusai Fit and Proper Test.

Beberapa bacagub PDIP yang telah mengikuti test tersebut, kepada media menerangkan bahwa mereka  sangat serius mengikuti setiap tahapan partai. Mereka pun memberikan apresiasi kepada tim DPP PDIP yang telah memberikan mereka kesempatan.  Bacagub Kristo Blasin mengatakan, kegiatan ini adalah bagian integral dari tahapan dana mekanisme yang ditetapkan partai. Ia sebagai kader tulen PDIP mengikutinya dengan baik karena benar-benar sudah paham dengan aturan main PDIP

. “Saya sangat senang mengikuti proses ini karena bagian dari tahapan partai yang harus dilalui oleh seorang calon pemimpin. Saya juga ucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran DPP PDIP dan seluruh tim penguji. Saya berharap PDIP tidak terlalu lama untuk memutuskan kader terbaik untuk menjadi calon gubernur NTT,”katanya, Selasa (17/17) kemarin.

Sementara itu, Ray Fernandes, mengaku dirinya sudah mengikuti seluruh proses  dana apapun keputusan partai dirinya siap mengamankan. “ Sebagai kader partai saya siap mendukung apapun yang diputuskan partai. Siapapun yang akan ditetapkan partai saya siap mengamankan,” katanya seusai test.    Setelah berpose bersama para warga NTT yang hadir di DPP PDIP, Raymundus kemudian meninggalkan kantor tersebut bersama beberapa pengurus teras PDIP NTT, seperti Nikolaus Fransiskus, Viktor Mado Watun dan Cen Abubakar.

Disaksikan media ini, beberapa bacagub, yang keluar kemudian dari rungan test,  seperti Kristo Blasin, Daniel Tagu Dedo, Marianus Sae dan Honing Sanny terlibat dalam diskusi seru di pintu keluar Kantor DPP PDIP, mereka tampak akrab dan berpose bersama dengan salam komando. Mereka berkomitmen, siapapun yang diputuskan DPP PDIP, maka dialah calon pilihan partai yang harus didukung melalui kerja bersama-sama untuk membangun NTT lebih baik di masa yang akan datang.  (Kornelius/sft)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *